19 sutradara versi eeduyhaw.blogspot.com yang musibah besar kalo nda nonton karyanya.


Pada akhirnya, prinsip memilih tontonan film sama ketika pilah-pilih musik mana yang catchy di kuping.

Dulu, sewaktu ke sekolah masih pamer lutut, alias celana bolehnya cuma yang buntung, asal dengar lagu enak, kuping pasti tampung. Cara tampungnya macam-macam. Kadang bela-belain beli kaset, CD, kaos, nonton konsernya, lengkap pajang poster di dinding kamar segala. Dalam hati, kereeen sudah!

Nah, kalau bagusnya gak bikin ngebet-ngebet amat, ya... paling tidak, di sore hari beberapa penggal syairnya mendayu-dayu di kamar mandi. Teriak-teriak kesurupan serasa vokalis band, nyaingi suara adzan maghrib mesjid dekat rumah.


Cuma masalahnya, di dunia ini, tiap bulan apalagi tiap tahun, lagu atau penyanyi baru yang bagus tuh mbrojol begitu aja ogah ikut program KB. Walhasil daya tampung mulai kewalahan. Dipaksakan posternya dibeli semua, plafon kamar mandi ikut-ikutan tak cukup buat nempel.

Banyak bukan berarti variatif. Kadang malah suka muncul kayak gini; Loh kok lagu ini mirip sama lagu itu ya? Band ini bagus kok, cuman masalahnya dia seolah niru band yang itu lho! Loh kok penyanyi ini lagunya gitu-gitu aja ya...

Dimulailah seleksi alam. Survival of the fittest. Hanya yang benar-benar okelah yang bisa bertahan. Sosok penyanyi/ band selanjutnya menjadi garansi bagus-tidaknya suatu karya musik. Kita mulai nyinyir siapa yang berhak tarik suara di gendang telinga. Fanatisme!

Film pun sama dengan musik. Sama-sama gak doyan KB. Buntut-buntutnya, prinsip seleksi alam juga berlaku dalam soal ini. Paling umum berdasarkan genre maupun aktor siapa yang berperan.

Hanya saja, kalau patokannya cuma dua indikator tersebut, rasa-rasanya kurang gimana gitu menentukan bagus-tidaknya sebuah film. Di belakang itu masih ada director (sutradara). Si pemilik sah hak-hak istimewa menetapkan apapun itu ketika sebuah film dalam proses pembuatan.

Sutradaralah yang menjatuhkan pilihan skenario (cerita) apa yang bakal dia garap. Sutradaralah yang mengajukan ke rumah produksi naskah ditangannya, ngobrol semalaman dengan produser-produser tentang rencana produksi. Atau sebaliknya, produserlah yang mendatangi sutradara, mengajak untuk menggarap naskah di tangan produser. Sutradaralah yang acak-acak script (breakdown), buat bahan visual pengadeganan cerita dibangun. Sutradaralah yang memimpin casting dan memilih aktris dan aktor mana yang cocok memerankan tokoh-tokohnya.

Pokoe kalau disimpulkan, menonton film itu sama dengan menonton isi otak si sutradara.

Oleh sebab dan maka dari itu, nama sutradara cukup penting tatkala film mulai jadi candu bagi mata dan isi kepala. Nama sutradaralah yang dijadikan taruhan dalam sebuah film. Tak usah heran jika di setiap opening title, sampul kemasan DVD atau poster yang terpajang di dinding bioskop, pasti ditulis a film by (nama sutradara). Bukan yang lain.

Nah, berlandaskan alasan bertele-tele inilah, hingga eeduyhaw.blogspot.com memilih beberapa nama sutradara sebagai jaminan mutu, saat ngobrak-ngabrik lapak DVD bajakannya orang, bingung di depan loket bioskop mau nonton film apa, atau sesaat sebelum pencet tombol download secara ilegal saat searching file film di internet.

Tentulah pilihan nama-nama di bawah ini sifatnya super-subyektif belaka. Sebab, bahkan setiap festival film kelas internasional pun punya standar sepihak sendiri-sendiri. Cannes, Berlinale, Venice, BAFTA, atau Academy Award (Oscar) punya gaya masing-masing dalam menyeleksi karya film yang terdaftar.
Lagipula, wong namanya juga memilih, siapa atau apapun itu mustahil obyektif. Paling banter subyektifitasnya yang obyektif, alias neng kene neng kono buntut-buntute subyektif juga.

Tapi bukan berarti pilihan ini seenak udel tanpa pertimbangan. Standar eeduyhaw.blogspot.com sederhana saja. Apakah film-film si sutradara biasa atau tak biasa. Titik.

Maksudnya biasa dan tak biasa itu begini:
- Apakah bobot muatan cerita (naskah) punya kedalaman (filosofis) biasa atau tak biasa?
- Apakah tekhnik penyampaian (struktur) cerita, alur, sudut pandang cerita biasa atau tak biasa?
- Apakah teknik (sinematografi) framing, strategi pecah scene menjadi shot, coloring, tekstur gambar, gerak dan blocking kameranya biasa atau tak biasa?
- Apakah eksplorasi (pengadeganan) tokoh (aktor/aktris) seperti mimik, gesture, isi dialog biasa atau tak biasa?
- Apakah eksplorasi unsur film lainnya biasa atau tak biasa?
-Apakah track record film-film si sutradara di ajang festival film internasional apresiasinya biasa atau tak biasa?

Poin-poin ini kemudian digunakan untuk mengukur minimal 3 film karya sutradara-sutradara yang dimaksud.

Tanpa harus berbusa-busa lagi, apalagi membuat dada anda dongkol menggerutu, si jenius-jenius yang pantas disebutkan namanya adalah:

(Ups... sorry kelupaan... urut-urutan namanya disusun berdasarkan rangking terbawah... pe-a-ce ^_^)
(oke lanjut... rewind sedikit) si jenius-jenius yang pantas disebutkan namanya itu adalah:


19. Robert Rodriguez

Buat ajang pemanasan, nama ini cocok disebut sebagai pembuka.
Hanya saja, bagi yang tak hobi adegan duel tembak-tembakan apalagi suka mau pingsan lihat ceceran darah, tangan terpotong, kepala terpenggal, atau usus terburai sebaiknya urungkan niat nonton film-film garapan sutradara asal Meksiko ini. Paling tidak film-filmnya sejauh ini.

Trilogi Film El Mariachi, Desperado, dan Once Upon A Time In Mexico menjadikan namanya diperhitungkan di level internasional. Film yang berkisah tentang legenda El Mariachi, pengamen gondrong yang kerap nenteng hardbox gitar menyusuri kacaunya kota Meksiko, yang di dalamnya tersembunyi senjata mematikan.

Dari awal sampai akhir, film ini penuh hambur-hambur peluru. Uniknya, kemasan adegannya macho, teknik berceritanya cepat, langsung ke sasaran. Hasilnya, Kesan yang muncul memanjakan penonton. Sebab tak bertele-tele sepeti kebanyakan film action pada umumnya.

Rodriguez, yang juga berduet dengan Frank Miller serta (sutradara tamu) Quentin Tarantino di film Sin City, sangat alergi dengan alur kaku yang mengalir kelamaan. Ia menyajikan filmnya layaknya fast food, cepat saji. Sebab ia paham kecenderungan pelanggan restoran, tak boleh bikin pantatnya dongkol gara-gara menunggu.

Metode GPL– Gak Pake Lama– inilah filosofinya. Coba rasakan sajiannya itu di film Planet Terror. Malah disini ada bonus tambahan lain. Rodriguez berusaha mengisi unsur konyol saat membangun cerita pada setiap adegan. Naluri comedy of brutallityaction-nya muncul. Hal yang membedakan film ini dengan trilogi El Mariachi. Selebihnya, soal kegemarannya bantai-membantai dan hambur-hambur darah tuetep dong!

Paling kreatif di film Machete. Rodriguez makin teliti membuat dialog-dialog yang bukan lagi lucu, tapi konyol dan cerdas. Menciptakan motif-motif nyeleneh yang mendasari tindakan tokoh-tokohnya. Ada juga gugatan sosialnya tentang eksploitasi imigran. Serta tampilan adegan-adegan liar, seliar imajinasinya menari-nari. Inilah metamorfosanya, otak brutalismenya makin konyol.

Saking konyolnya, dalam film ini ia menambahkan audio tepukan tangan, teriakan gembira atau gumaman wow... serupa penonton bioskop ketika ada adegan seru seperti antek-antek musuh kepalanya dibelah dua, si perempuan cantik bugil di kamar mandi atau usus si bajingan ditarik dari perutnya untuk dijadikan tali buat si jagoan melarikan diri.

Tambahan tepukan serupa penonton di bioskop ini, betul-betul penemuan kreatif dan “original”. Ia seolah mengolok-olok kecenderungan film-film laga. Semacam kritikan surealis buat pecandu film, bahwa bahkan brutalisme pun kita jadikan hiburan renyah serenyah popcorn.

Itulah Rodriguez, makin brutal, sadis, penuh darah, tapi ongol-ongol. Filmnya ekstra-entertain.


18. Takeshi Kitano

Ingat ‘Benteng Takeshi’? Nah, doi inilah yang memerankan si raja yang mesti dikalahkan peserta saat sesi pertempuran menggunakan mobil-mobilan dan senjata air. Benar, raja yang suka jahil getok-getok kepala ajudannya pakai kipas. Dia juga produser sekaligus director di acara TV jepang ini lewat label rumah produksi ‘Office Kitano’.

Tentu saja bukan lantaran itulah namanya bisa icip-icip di eeduyhaw.blogspot.com. Zatoichi adalah salah satu filmnya yang pantas diacungi jempol. Ceritanya berkisah tentang seorang jagoan samurai buta yang berkelana ke mana-mana.

Takeshi, ketika memaknai seperti apa keinginan film-filmnya, adalah tipikal penyuka konsep gambar sederhana namun sarat nilai artistik. Di film ini, ia tak bergantung pada setting ribet ala film-film silat budget besar. Tapi tanpa itu, ia mampu menunjukkan kecerdasan lewat penciptaan gerak dan framing kamera yang indah.

Adegan pertarungannya juga bukan tipe murahan sebab lebih mementingkan tata artistik adegan ketimbang unsur action (perkelahian) seru macam punya Jet Li atau Jackie Chan yang berlebih-lebihan itu.

Ia juga lihai dalam mengolah bahasa tubuh. Setiap lirikan mata, kepala yang menoleh, wajah yang tertunduk, gerak jari, atau bibir yang mengatup adalah kesengajaan yang ia tampilkan untuk mengundang rasa penasaran, sebab ternyata memang mempunyai makna surprise pada shot atau scene selanjutnya.

Eksplorasi simbolis lewat properti, serta keberpihakannya terhadap kekayaan tradisi budaya jepang terasa halus. Bahkan unsur alam seperti angin, api, salju, air, atau musim di film ini adalah untaian kata-kata filmis.

Satu yang menjadi ciri khasnya, selain sering membintangi sendiri tokoh utama filmnya, yakni mengemas setiap cerita dalam komedi satire secara terselubung. Zatoichi jelas bukan genre komedi, tapi menontonnya sering kita dibuat tertawa kecil melihat adegan-adegan di dalamnya. Cerdaslah pokoknya unsur komedi tipis-tipisnya.

Ciri khas ini ia bawa untuk dieksplorasi di film lainnya berjudul Achilles and the Tortoise. Di sini unsur komedi-satirenya semakin kental. Tapi tetap dengan seleranya yang tampil dengan konsep sederhana, set yang gak neko-neko, namun eksplorasi pengadeganan yang kuat.

Film ini bercerita tentang perjalanan hidup pelukis yang hingga masa tuanya sekalipun tak pernah mereguk sukses. Lucu, lucu sekali. Tapi lawakannya bukan tipikal Jim Carrey apalagi Opera van Java, yang kalau kebanyakan suka bikin perut mual. Ini komedi satire yang tune humornya gelap tapi bukan suram apalagi horor. Susah mendeskripsikannya, nonton deh sendiri. Tapi, kalau gak ketawa, marah-marahnya ke Takeshi jangan ke blog ini. (hehehe...)

Di film yang naskahnya ia tulis sendiri ini, loncatan-loncatan berpikir Takeshi dalam menciptakan babak-babak cerita sangat baik. Ia bahkan menggugat kritis tentang seni itu sendiri lewat dunia lukis. Sangat filosofis, itu nilai lain seorang Takeshi yang menonjol melalui film ini.

Film lainnya yang bernafas serupa adalah Glory to the Filmmaker! Sementara Outrage, sepertinya berdasarkan trailer, Takeshi sepertinya mencoba pengarapan gambar yang lebih serius (sayang belum sempat nonton… hihihii).

Kecuali tentu saja Outrage, menonton film Takeshi Kitano sama dengan menonton pengolahan bahan baku yang simpel tapi dengan tekhnik penciptaan adegan, sinematografi, simbol, makna yang memerlukan kemampuan artistik tinggi. Plus bonus gelak tawa kecil serta pandangan filosofis-kritis.


17. Steven Spielberg

Tak kenal Spielberg? Wuaaaduh... tak bisa berkata-kata deh kalau sampai iya.

Ia diidentikkan dengan film genre science-fiction. Kepiawaian sutradara dalam genre ini memang terletak pada manipulasi teknologi gambar. Utamanya tata artistik lalu dipadukan teknis editing.

Sebut saja E.T. the Extra-Terrestrial atau Jurassic Park, dimana ia menghidupkan kembali makhluk punah Dinosaurus, dalam artian cara geraknya benar-benar seperti hidup (nyata) di layar film.

Atau konsepsi masyarakat masa depannya dalam Minority Report. Mobil-mobil yang dibuat melayang. Jalan-jalan yang mengantung di udara. Serta tampilan-tampilan bangunan futuristik. Semuanya membutuhkan pemikiran blocking gambar yang tidak sederhana. Tentulah design produksi film ini butuh kecermatan dalam mengkonsepnya. Dan bila lensa kamera tak mungkin membuat manualnya, maka teknologi manipulasi gambar (efek khusus) pun berbicara.

Satu yang selalu disebut-sebut kehebatan sci-fi garapannya, temanya bukan untuk masa kini. Kelak, mungkin 1000 tahun ke depan, manusia di tahun itu akan tercengang bila sempat menonton film Spielberg, bahwa apa yang mereka tengah jalani telah diprediksi Spielberg 1000 tahun sebelumnya. Begitu karakter Spielberg memaknai filmnya.

Tapi bila memeriksa filmographynya, sebenarnya bukan cuma itu batas daya jelajahnya. Justru secara kuantitas ia banyak menelurkan film-film drama. Contoh Saving Private Ryan dan Catch Me If You Can.
Nah, paling menarik ketika ia menggarap Schindler List. Di situ ia benar-benar tampil sebagai sosok humanis yang berkisah tentang betapa menyedihkannya kemanusiaan di kamp-kamp konsentrasi NAZI. Gambar-gambarnya tampil klasik, polos, dan sengaja dibuat dalam coloring hitam-putih. Ceritanya berdurasi kurang lebih 3 jam, namun itu serasa masih belum puas bila menyimaknya. Dramatik.

Atau lihat pula The Terminal, bagaimana ia mengeksplor habis gambar dan cerita yang setnya 100% tak boleh keluar dari bandara.

Menariknya Spielberg, ia bisa selalu tampil tak terduga. Maka jangan heran, bila sewaktu-waktu ia muncul dalam ide yang tak terpikirkan sutradara lain sebelumnya.


16. Ang Lee

Sutradara asal Taiwan ini ibarat kata psikolog nyentrik. Gemar menyelam jauh ke alam psikis manusia. Kalau saja alam bawah sadar itu seperti taman kota, Ang Lee bakal tiap hari bikin tenda disitu, mengamati.

Akting kuat (berani) dari seorang aktor/aktris menjadi syarat utama untuk mendapat peran di filmnya. Brokeback Mountain satu buktinya. Film tentang homoseksual ini menyabet kategori bergengsi best director dan best film pada perhelatan Oscar-78 tahun 2006.

Lalu ada Couching Tiger, Hidden Dragon. Film yang masuk nominasi Ocsar lagi, menonjolkan aksi jurus-jurus silat sambil terbang-terbangan secara halus. Di bungkus sinematografi erotis lanskap alam Cina. Walau demikian, di luar itu, cerita film ini seperti kecenderungan film silat Cina pada umumnya.

Selepas itu, ia melahirkan film Lust Caution. Ini film yang bikin leher tercekat dan wajib tonton. Kalau habis nonton horor yang benar-benar seram itu pasti bikin dada debar-debar, nah psikologi cerita di film ini sama menakutkannya. Akting tokoh-tokohnya bikin tenggorokan tercekat.

Kerangka besar ceritanya (sinopsis) sepintas lalu boleh terlihat standar-standar saja, tentang gerakan sekelompok pemuda-pemudi kampus yang ingin merevolusi kaki tangan invasi jepang di Cina. Tapi penyelesaian ceritanya itu, sadis.

Mungkin anda akan terganggu dengan adegan-adegan seks Tony Leung bersama Tiang Wei yang berseliweran di mana-mana. Tapi maknanya sama sekali bukan mengarah ke mesum film biru. Seks di film ini justru inti dari perang psikis karakter-karakter tokoh dan kekuatan motifasi cerita disematkan.

Habis menonton film ini, seperti menimbulkan pertanyaan “Hah... iya ya, bagaimana jika betul-betul terjadi seperti itu?” lalu mulut mangap. Soalnya, kisahnya possible terjadi di kehidupan nyata. Cuma, rasanya tak ada orang yang sudi mengekspos bila memang mengalami seperti itu. Dan film ini lalu berani datang mengungkap itu, meski sebatas fiksi. Itulah indahnya imajinasi. (cuma ini terlepas dari soal debat agama loh ya... itu konteksnya lain)

Taking Wodstock adalah film berikutnya. Setting ceritanya diinspirasi kejadian nyata tentang usaha orang-orang muda flower generation menggelar demonstrasi make love not war melalui pertunjukan konser musik.

Meski kategori film ini ‘baik tapi tak terlalu spesial’, yang menarik diperhatikan adalah lompatan-lompatan wawasan Ang Lee. Kelihatan bila ia tak sempit seumpama katak dalam tempurung.

Ang Lee memang jarang menuliskan sendiri naskah filmnya, namun melihat caranya memilih skenario, sangat kelihatan kalau wawasannya luas. Terlebih soal eksplorasi alam bawah sadar manusia (individu). Ia lihai menggali, memunculkan dan memetik kemampuan puncak akting tokoh-tokohnya hingga tak ada lagi yang tersisa.


15. Martin Scorsese

Kakek gaek yang lahir tahun 1942 ini adalah sutradara keturunan Italia-Amerika yang daftar karya filmnya bejibun. Ia sangat produktif terhitung sejak film pertamanya Who's That Knocking at My Door di tahun 1967.

Tak banyak masalah yang bisa diceritakan mengenai gaya directing kakek kita satu ini ini. Maksudnya tak banyak masalah itu adalah semua teknis filmnya oke. Sinematografi oke. Strategi cerita oke. Bobot cerita oke. Semua lini oke waelah.

Cuma kalau menyelidiki loncatan pemikiran filmnya, kira-kira seperti ini.

Casino. Film ini bersetting cerita tentang sepak-terjang mafioso kakap di balik perjudian kasino-kasino besar. Karakter berdarah dingin dunia mafianya terasa. Penciptaan adegan melalui tokoh-tokohnya dapat. Komposisi frame, pergerakan kamera, hingga coloring gambarnya mantaplah. Bangunan cerita dan sub-plot juga baik dan cepat. Jadinya film ini enak ditontonnya.

Lalu Kundun. Tiba-tiba Scorsese jadi religius. Ia begitu dalam mengisahkan bagaimana bijaksananya Dalai Lama-14 yang dipaksa hijrah ke India akibat tekanan militeristis politik Cina. Ia jeli dan mampu menangkap pesona kearifan suasana hening tradisional keagamaan sudut-sudut alam Tibet. Tanpa sadar Scorsese seperti seorang budhisme.

Terakhir Shutter Island. Cerita film bergenre thriller-psikologis ini menarik. Hingga credit tittle naik, mata masih berharap sesuatu, masih menyisakan tanda tanya soalnya. Apa iya tokoh yang diperankan Leonardo DiCaprio itu adalah pasien rumah sakit jiwa yang sedang dalam program rehabilitasi khusus ataukah ia sebenarnya memang Marsekal AS? Lewat scene-scene ciptaannya, Scorsese sangat berhasil mengaduk-aduk otak penonton. Padahal lokasi pengambilan (set cerita) tak pernah keluar dari pulau (rumah sakit jiwa) itu. Ini film wajib nonton. Sebab walau lokasi simple, budget murah, tapi kemasan ceritanya unik.

Banyak sutradara, suka boros-borosin ongkos produksi. Pake teknologi canggih segala. Set lokasi yang mahal. Tapi di tangan Scorsese, beri bahan seberapapun, ia sanggup memolesnya jadi lebih keren.

Konsistensi, hasil dari kenyang makan asam garam film. Itu mungkin yang membuat karya-karya Martin Scorsese selalu oke dan tak mengecawakan.


14. Alejandro Gonzalez Inarritu

Aktifis. Rasanya itu julukan yang cocok buat sutradara asal Meksiko ini.

Peka dengan carut-marut masalah sosial, politik dan budaya masyarakat yang dampaknya tergambar di kehidupan sehari-hari tokoh-tokoh di filmnya. Bukan saja dalam skala di suatu negara, bahkan lintas masyarakat dunia sekalipun, ia tunjukkan seperti itu.

Di film Amores Perros, boleh saja ia mengambil judul tentang cinta. Tapi cinta dalam film ini hanyalah kegamangan, bahkan garang serupa Perros. Sebab di balik itu, ada tekanan yang lebih besar mendasari setiap motifnya. Cinta dalam film ini, hanyalah suatu medium yang digunakan untuk menyingkap gagasan yang sebenarnya. Suatu konsep tema yang menuntut perhatian serius, yakni komplektisitas kondisi sosial-budaya masyarakat Meksiko

Akan halnya di film Babel. Medan pemikiran sosial Inarritu justru makin mengglobal. Ia melihat komplektisitas masalah tokoh-tokoh di filmnya jauh lebih rumit. Ras dan negara kita boleh Meksiko, Amerika, Tokyo, atau Morroco. Namun, tidakkah kebijakan sosial-politik antar negara kita, kadang hanya tampil tak ubahnya palu besi yang justru mengekang hak dan kewajiban kemanusiaan kita.

Begitulah kondisi sosial-politik-budaya dunia, yang divisualkan Inarritu pada kedua filmnya ini.

Hebatnya lagi, unsur komplektisitas ini ia transformasikan ketika menyusun struktur cerita. Sehingga strategi ini, menjadikan nyawa dari gagasan besarnya kian terasa. Inilah yang menjadi ciri khas seorang Inarritu dalam memaknai filmnya. Si pengobrak-abrik sub-plot dan alur, serta tak membuat pusat cerita mengalir hanya pada satu-dua tokoh utama.

Bahkan kalau boleh dikata, tak ada istilah tokoh utama dalam kamus filmnya. Semua karakter yang terlibat adalah tokoh utama. Setiap karakter mengalirkan cerita masing-masing, yang boleh jadi saling bersinggungan secara tak sengaja dan tak kasualitas (sebab-akibat) satu sama lain.

Itu lalu ia ramu dengan menghindari penyakit aliran cerita monoton yang kerap timbul pada langkah-langkah struktur naskah segitiga. Awal film mesti dimulai dengan pengenalan tokoh-lah, pemunculan masalah-lah, proses masalah-lah, penyelesaian masalah-lah (klimaks) dan ditutup ending.

Strategi bercerita Inarritu ibarat struktur jaring laba-laba. Setiap sub-tema muncul bergantian, saling bersilangan antar satu jejaring dengan jejaring lainnya. Kadang makin diperindah lagi ketika alurnya ia bolak-balik sedikit. Ia tak ingin sok bijaksana menyodorkon solusi masalah. Ia malah membiarkannya mengambang, diserahkan ke masing-masing penonton.

Kompleks, sekompleks masalah sosial di dunia ini. Begitu bila menyimpulkan gaya Inarritu dalam satu kalimat pendek.

* * *

Oke segitu dulu deh… lanjutannya nanti. Ini saja panjangnya astagafirullah…

* * *

Kampung Pettarani, Makassar 31 Maret 2011

1 komentar:

  1. Saya baru tau si "Benteng Takeshi" itu sutradara hebat kak :D

    BalasHapus