Tadinya, mau diberi judul ‘Keyakinan Romantik di Neraka'. Lalu diganti 'Kesetiaan Jin’. Lalu kombinasi dari 'Keyakinan Romantik, Kesetian Jin'. Berhubung sesuatu dan lain hal, yang persisnya gak tahu dan gak jelas apa, maka batal.



“Kesabaran akan selalu berbuah manis...”
Demikian tertulis di dinding akun jejaringnya orang. Punya siapa? Seronok kalau identitasnya dibuka-buka. Di samping tentu saja kurang ajar, juga kurang kerjaan. Potensi efeknya, cuma menambah daftar panjang nama orang-orang yang dibuat jengkel. Lagipula, bukan orangnya yang penting. Kalimatnya.

“Kesabaran akan selalu berbuah manis...”
Dibaca kedua kali, hmm... ya... oke. Maksud yang bijak.

“KESABARAN AKAN SELALU BERBUAH MANIS...”
Nah, baru setelah yang ketiga, setelah menerawang lebih saksama demi memenuhi rasa penasaran stadium akut, hingga lebih cocok disebut 'kemasukan' daripada 'penasaran', setelah secara tampilan lebih 'ilmuwan' ketimbang ilmuwan itu sendiri, ibarat kata menerawang adalah nongkrong 7 hari 7 malam dalam laboratorium hanya karena tak ingin kecolongan sekedipan-mata aktifitas makhluk bintik-bintik super-kecil di balik teropong lensa kaca mikroskop, sampai-sampai saking seriusnya, astagafirullah... huruf-huruf pada kalimat itu sekonyong-konyong tiba-tiba saja 'bengkak' jadi kapital semua, yang sebabnya tak tahu apa, karena itu makin dilematislah keyakinan; apakah benda berstruktur lumayan ribet bernama mikroskop ini memang benar 'alat vital' ajaib untuk 'memperbesar sesuatu'; ataukah ini semata-mata fatamorgana otak akibat reduksi endapan sisa cairan alkohol semalam; ataukah ada makhluk halus yang melintas tanpa sengaja mengakibatkan keanehan pada huruf-huruf di kalimat itu; kiranya diperlukan pertolongan langkah berfikir lebih runut, dan tentu saja pertolongan pertamanya tak lain dan tak bukan mengakhiri sekerumunan barisan kata-kata yang lebih mirip kekacauan paragraf daripada satu kalimat utuh ini dengan tanda baca: titik.


Menggumam akhirnya dalam hati, “Hmm... kayak ada yang ganjil memang kalimat ini?”

Pertanyaan ganjilnya begini, kalau setiap kesabaran selalu berbuah manis, bagaimana jika ada kesabaran yang tidak berbuah manis? Trus, semakin ia sabar tetap saja kesabaran itu gak manis-manis? Bahkan gak berbuah-buah sama sekali? Trus, bagaimana jika yang menentukan apakah kesabaran itu dibuahi atau tidak, memang sengaja memilih orang yang melakukan kesabaran itu agar gak dibuahi yang manis-manis demi membuktikan sejauh apa kesabarannya? Malahan yang pahit? Kalau perlu sekalian saja gak dibuah-buahi? Biar tambah bingung. Atau yang menentukan buah itu bilang begini, “Situ mau sabar apa kagak, ora urus, gak kenal!” Biar lebih bingung lagi.

Nah, kalau sudah begitu, apa sebenarnya kesabaran itu? Maksudnya, adakah hubungan antara sabar dengan buah? Wuaah... mulai ribet. Maksudnya, toh sabar gak bakal berbuah-buah juga, tidak sabar gak berbuah-buah juga, jadi sabar yang mana?
Apakah sabar itu harus digagahi...eh... anu...dibuahi? Apakah sabar yang tak berbuah itu bukan sabar? Bukankah buah dari kesabaran yang wujudnya tak berbuah itu adalah "buah" juga? Hanya saja dibacanya buah pakai tanda kutip? Terakhir apa hubungannya sabar dengan pepatah 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'?    


Yang jelas Kesabaran itu berjodoh dengan obsesi. Keduanya sukar dipisahkan. Bersisi-mata-uang-logam-lah kurang lebih istilahnya.
Sementara, obsesi itu pada dasarnya keinginan yang belum terealisasi. Tentu, dibutuhkan usaha untuk mewujudkan.

Usaha pertama dilakukan. Hasilnya gagal, sebab tolol. Ada usaha kedua.
Usaha kedua nyaris. Nyaris bikin  frustasi. Ada usaha ketiga.
Nah, usaha ketiga replay. Siaran ulang dari usaha pertama dan kedua.

Maka selain usaha, harapan juga perlu ikut nimbrung ambil bagian. Hanya saja harapan itu konsep absurd yang lumayan tidak konkrit. Bertandemlah harapan dengan kesabaran. Tandem yang serasi. Pasangan sejoli.

"Sedikitpun, kesabaranku takkan pernah surut mengharapkanmu," kalimat yang romantis. Ini bukti kalau kedua kata ini memang jodoh. Cuma, siapa memerankan sebagai tulang rusuk kiri kurang tahu. Tapi sesungguhnya, sebaik-baik kesabaran adalah KESETIAAN."

Sempurna spekulasi teori terburu-buru ini. Bisa jadi hanya karena terinspirasi dari fenomena alam “Badai pasti berlalu. Meski pelan, awan gelap pasti beranjak. Langit bakal cerah kembali. Esok matahari akan mengintip lagi. Dan pelangi akan membentang indah di langit biru.”
Pas memang sebagai selimut hangat, pelipur lara disaat semangat nyaris membatu jadi fosil purbakala.

Dan hanya gara-gara satu sempilan kata 'KESETIAAN' itulah, dari sekian banyak pilihan kata yang menghambur di atas, yang kemudian mengingatkan satu cerita, yang entah berhubungan dengan kalimat di dinding akunnya orang itu atau tidak, atau kalaupun tidak nyambung paling tidak cerita ini bukan diinterpretasikan secara sok tahu bahkan mengada-ada dari sumber sebelumnya, ataupun paling tidak cerita ini minimal menarik, pun itu gak ada yang berani menjamin, yang jelas intinya teringat saja.


*     *     *

Kala itu penciptaan manusia pertama,
Ketika ruh baru saja ditiupkan ke dalam sanubari makhluk berasalkan tanah,
Tuhan lalu menyuruh semua makhluk besimpuh sujud kehadapan Adam.

Serta merta hati Jin diliputi resah mendalam. Tak pernah sekalipun sebelumnya, hatinya sesak seperti ini. Alkisah, dengan berat hati ia mengucap kalimat:

“Sungguh, semata-mata hanya kepadaMulah aku menyembah, tak ada yang lain.” Jin mematung, tak melakukan gerak apapun.

Sujud, gerak bukan sembarang gerak.
Sembah boleh berupa apapun.
Sekuntum wangi bunga, sesajenan, tetes darah hewan sembelihan, sekarung emas berlian atau istana megah sekalipun, ihklas sanggup kita berikan.

Tetapi sujud, punya sesuatu yang lain. Sesuatu yang berikrar tentang ketundukan, kepatuhan, kecintaan mendalam, penyerahan keseluruhan, kesetiaan, bahkan meleburnya harga diri.

Ketika kepala ini rebah ke tanah, ke landasan yang bahkan lebih rendah dari telapak kaki, itulah penegasan dari bahasa tubuh paling mulia, yang melukiskan bagaimana segenap diri ini mangakui bahwa dihadapannya adalah keagungan.   

Jin sangat paham akan itu.
Maka demi cinta yang teramat dalam, demi kesetiaan yang teramat suci, ia diluar dugaan terpaksa menampik perintah.
Baginya, hanya satu yang agung, hanya satu yang mulia. Cinta itu tak mendua, kesetiaan suci itu tak berbagi. Sujudku hanyalah milikMu. Tuhan.

Perintah terlanggar.
Meski hati kecilnya sedih, itu bukanlah maksud pembangkangan apalagi pemberontakan.

Setiap pelanggaran melahirkan hukuman.
Dilemparkan (diasingkan) dirinya ke tempat yang begitu mengerikan bagi siapa saja.
Begitu kitab mengisahkan.

Apalagi yang paling menyakitkan, bila kesetian seorang hamba dipisahkan dari sisi tuan yang dicintainya.
Apalagi yang paling memerihkan, bila cinta tak lagi mampu bertemu kekasih hati.
Bahkan untuk sekedar meresapi wajahnya ataukah mendengar bisik suaranya.

Apalagi yang paling mengerikan, sebuah tempat bernama Neraka.
Mengerikan.
(Sebab otak kanan kita terlanjur diajari, inilah tempat dimana isinya tak lain lidah-lidah api yang menjulur.
Lalu otak kiri kita juga diajari, bahwa Jin adalah makhluk yang diciptakan berbahan baku api).
Sungguh-sungguh mengerikan memang. Ajaran model kayak gini maksudnya.

Bayangkan bila seseorang yang mencinta teramat dalam,
terhukum perpisahan dengan kekasihnya.
Tak ada lagi perjumpaan. Wajah yang dipandang. Bisik suara. Aroma tubuh. Bahkan kabar tentangnya.
Tak akan pernah ada lagi setitik apapun denganNya. 

Tapi sedikitpun, Jin tak pernah mengeluh.
Hatinya tak tergoyahkan.
Perpisahan bukan hal apa-apa.
Hanya binasa (ketiadaan), satu-satunya yang pantas merubuhkan keyakinannya.
Bahwa cinta itu tak mendua, kesetiaan suci itu tak berbagi.
Karenanya, sujudku semata-mata hanya milikMu.

Itu ia pegang sejak pertama diciptakan dan akan sampai kapanpun.

“Aku hambaMu yang lebih setia daripada dia (manusia).  Aku lebih mencintaiMu daripada dia (manusia). Aku hanya memohon satu, izinkan aku ikut ke dunia, bersamanya, demi untuk membuktikan itu.”

Dan dia, asal muasal bangsa setan, yang ternyata memilih terlemparkan dalam kobaran api bersama cinta dipersemayaman abadinya, mungkin benar adanya.
Benar bila tentang kesabaran dan kesetiaan tak ada yang sebaik dirinya.
Sebab, kita kadang bahkan sanggup melakukan sujud yang munafik.

Sama seperti kalimat "Kesabaran akan selalu berbuah manis..."
Lama-lama makin terlihat materialistis. Udang di balik batu.
Sepertinya tapi.
 
NB: misalnya tulisan ini gak jelas juntrungan, maka paling tidak poin yang ditawarkan 'Jin ternyata jatuh cinta pada Tuhan'.  atau mungkin 'Betapa gak penting jadi matre, gak disuka jin, bisa-bisa tiap malam minggu diapeli'. 

*    *     *

Kampung Pettarani, Makassar 16 september 2011.

sumber gambar: http://anuranjanbhatia.deviantart.com/art/My-Heart-on-Fire-58522121?q=boost%3Apopular%20heart%20and%20fire&qo=16
Selengkapnya...

Sang Pengembara




















“Seorang yang bebas, harus bisa membayangkan hidup dalam situasi apapun
tanpa perlu kehilangan esensi kemanusiaannya.”
Nurcholis Madjid (1939 – 2005)


Ada suatu kepercayaan yang tidak mempercayai bahwa kegemilangan materi akan membawa ke kebahagiaan sejati.

Dulu, itu merasuki jiwa orang-orang muda di balik kelimun, hingar, dan pesona lampu-lampu kota. Mereka menggelandang, tapi bukan gelandangan. Mereka ada di sudut-sudut malam jalanan, tapi bukan melakukan kriminal, apalagi meratap meminta-minta belas kasihan.

Bohemian.
Kebanyakan mereka adalah orang-orang muda golongan menengah perguruan tinggi, yang mencoba mengungkap ekspresi ‘religius’ tentang hakikat ilahiah lewat nyanyian kemiskinan.


Dalam keadaan bernama kemiskinanlah bersemayam kesucian. Bukan selalu harus dengan ritus kemewahan, industri, apalagi hitungan untung-rugi mesin produksi.

Dibesarkan dengan kultur aksara, seni avant-garde, serta eksistensialisme. Maka baginya, jalanan adalah rumah. Hanya saja kebetulan atapnya dari langit.

Mereka, bohemian, terlanjur jatuh hati akan pengembaraan kehidupan malam. Dan dalam kegelandangan itu mereka barulah merasa ‘manusia’. Manusia yang benar-benar ‘hidup’.

Mereka inilah, yang bercommune, yang berada dibalik teriakan masyhur “Make Love, Not War” menentang Perang Vietnam. Di jalan mereka membagikan warna-warni bunga lambang cinta damai. Orang lalu menjulukinya flower power, flower children, atau yang paling kesohor flower generation.

Soal Perang Vietnam, itu hanya satu dari sekian banyak kejengkelan terhadap rusaknya kenyataan sosial yang tengah berkembang. Materialisme budaya adalah yang paling dicemooh.

Dan counter culture dilakukan. Mari bercelana jeans sobek-sobek, berkaos oblong, berkalung manik-manik, berambut gondrong, berjenggot lebat, bersandal jepit, berjaket yang disulam sendiri. Atau mari berkaftan– jubah longgar tadisional Turki yang menjuntai hingga lutut– demi membedakan kita dengan mereka yang bersetelan rapi dengan dasi.

Mari mengenakan yang berharga murah, sebab kita anti-kemapanan, anti-borjuisme, anti-militerisme, anti-senjata nuklir, anti-masyarakat fasis, bahkan anti-gereja bila memang memenjarakan fikir.

Segala yang beraroma kemandegan, keajegan, dan kesempurnaan palsu harus disingkirkan jauh-jauh. Mari memperjuangkan gerakan hak-hak azasi manusia, kesetaraan hak kaum perempuan, pelestarian lingkungan hidup. Mari mengedepankan cinta-damai, keterbukaan serta toleransi.

Ajaran ‘timur’, buddhisme, vegetarian (menghindari makanan instan), mempraktekkan pengobatan alternatif, adalah hal baik yang bisa kita terima. Retornous a la nature, kembali kepada alam kata Jean-Jacques Rousseau (
1712 - 1778) di Zaman Romantik harus didengungkan kembali.

Itu Bohemian.
Legenda orang-orang muda gelandangan di sudut-sudut malam kota besar barat, yang gemar bercommune dan mereka berbincang tentang seni avant-garde ataukah filsafat eksistensialisme.

Bohemian, seperti juga dari Nietzsche dalam Thus Spake Zaratuhstra :

“Hidup bebas masih terbuka bagi jiwa-jiwa yang besar. Sesungguhnya, dia yang menguasai sedikit adalah yang sedikit pula terkuasai: terberkatilah kemiskinan yang tidak berlebihan!”

* * *

Demikian halnya;

320 tahun sebelum Masehi.
Ada seseorang bernama Diogenes dari Sinope. Ia murid dari Antisthenes. Sementara Antisthenes adalah murid dari Socrates.

Melalui Socrates, Antisthenes mengembangkan filsafatnya di Atena dan diberi nama Gymnasium Kynosarges. Ajarannya yang utama, bahwa “Budi adalah satunya-satunya yang baik.” Di luar itu, tak ada lagi kesenangan hidup yang lain.

Itu diperoleh Antisthenes, tatkala ia mendengar Socrates berucap di depan sebuah kedai yang menjual bermacam-macam barang.

“Betapa banyak benda yang tak kuperlukan,” kata Socrates.

Antisthenes kemudian memahami, bahwa budi adalah kebahagiaan sejati. Dan itu tidak terletak pada kelebihan lahiriah, kemewahan materi, atau kekuasaan politik.

Sayang Antisthenes kontradiktif. Bertolak belakang ajarannya sendiri, Ia mengikuti Kaum Sofis, memungut bayaran dalam ‘sekolah’ filsafatnya. Dimana hal itu sangat pantang bagi Socrates.

Lalu datanglah Diogenes. Murid Antisthenes. Dialah kiranya yang memegang teguh ajaran ini. Konon ia, yang hidup dalam sebuah tong, hanya memiliki sebuah mantel, tongkat, dan kantung roti.

Suatu hari, ‘The Great’ Alexander mengunjunginya dan berdiri dihadapannya. Sang maharaja kemudian menawarkan belas kasihan,

“Adakah sesuatu yang dapat kulakukan sehingga itu membantumu?”
“Ya,” jawab Diogenes.
“Bergeserlah ke samping, Anda menghalangi keindahan cahaya matahari,” lanjutnya.

Diogenes mengisyaratkan, bahwasanya tong, mantel, tongkat, dan kantung roti, tak kalah bahagianya dibanding istana dengan segala kemewahannya.

* * *

Demikian halnya;

Duhai suara itu, panggilan itu, menggoreskan cerita yang termasyhur. Tentang seorang pangeran klan Kerajaan Sakya, yang lahir di dekat kota kecil Kapilavastu, besar dalam dekapan takhta dan kekuasaan, namun mengucap sebuah ‘selamat tinggal’ yang menyesakkan dada.

Sidharta ‘Buddha’ Gautama (565 – 485 SM), pangeran berhati lembut telah menyaksikan parade kefanaan. Bahwa manusia menjadi renta, dihancurkan oleh sakit, diusung sebagai jenazah, lalu dileburkan dalam debu dan tanah. Ia terkesima akan hakikat cerita, bahwa kematian melekat erat dengan dan dalam roda-roda kehidupan manusia.

Maka lonceng pengembaraan dibunyikan. Ia pergi meninggalkan keluarga, gemerlap istana beserta segala isinya. Ia menjadi manusia pengembara, dimana langit kembali dijadikan atap rumah. Yang mengajarkan ‘darma’ kepada siapa saja pengikutnya.

Ia, Sang Sakyamuni– guru bagi orang-orang Sakya– sesungguhnya meniggalkan catatan kecil dalam ajaran Buddhisme. Bahwasanya kealpaan harta bukanlah dalih untuk membinasakan hidup dan diri sendiri. Dalam ajaran terakhir, sebelum ia menuntaskan kehidupan, ia berkata kepada para pengikutnya. *

“Kehancuran itu melekat pada seluruh benda. Usahakan keselamatanmu (kebahagiaan) sendiri dengan penuh ketekunan.”

* * *

Demikian halnya;

Legenda seorang darwish, Abu Ishaq Ibrahim Ibn Adham, seperti juga Buddha Gautama, pangeran keturunan Arab dari Kerajaan Balkh. Yang diceritakan orang-orang suci (wali), meski ‘dunia’ di bawah kekuasaannya, meski 40 pedang emas dan 40 tongkat emas selalu mengiringi depan dan belakangnya, namun semuanya urung menghalangi bisikan hatinya.

Ibrahim Ibn Adham– yang dikisahkan wiracarita sufisme syahid di tahun 165 H/ 782 M dalam sebuah ekspedisi laut melawan pasukan Byzantium– pada suatu tengah malam tidur di pembaringan kerajaan. Di tengah tidurnya, ia merasakan ada orang yang seolah berjalan di atas atap kamarnya.

“Siapa itu?” teriaknya.
“Seorang teman. Aku kehilangan unta, dan kini tengah mencarinya di atas atap ini,” jawab si pemilik suara.
“Dasar bodoh, engkau mencari unta di atas atap?” ujar Ibrahim.
“Orang bodoh?” tukas suara itu.
“Apakah engkau mencari Tuhan di dalam pakaian sutra dan di dalam tempat tidur emas?” sindir si pemilik suara.

Kalimat terakhir itu menyentak Ibrahim. Sesuatu terasa mengganjal dalam hatinya. Sepanjang malam ia gelisah. Hingga ketika pagi tiba, ia kembali ke singgasananya mencoba mencari makna.

Belumlah sempat ia mampu memecahkan gerangan apakah maksud perkataan semalam, seorang lelaki buruk rupa tiba-tiba memasuki ruang istananya. Karena buruknya, tak seorang pun pejabat dan pelayan yang sempat menegurnya.

“Apa maumu?” tanya Ibrahim.
“Aku singgah di penginapan ini,” kata si lelaki buruk rupa.
“Ini bukan penginapan. Ini adalah istanaku, wahai kamu yang telah gila,” teriak Ibrahim setengah marah.
“Siapa yang memiliki istana ini sebelumnya?” tanya si lelaki.
“Ayahku.”
“Sebelumnya?”
“Kakekku.”
“Dan sebelumnya?”
“Buyutku.”
“Sebelumnya lagi?”
“Ayah dari buyutku.”
“Kemana mereka semua pergi?” ujar si lelaki melanjutkan.
“Mereka telah tiada. Mereka telah wafat,” jawab Ibrahim.
“Lalu apa lagi namanya tempat ini kalau bukan penginapan, jika orang-orang hanya masuk dan kemudian pergi,” kata si lelaki buruk rupa.

Setelah berkata demikian, lelaki asing itu pun menghilang tanpa jejak. Menurut riwayat, lelaki itu tak lain Nabi Khidhr as.

Kejadian-kejadian misterius itulah, yang awalnya tak mampu dijelaskan akal Ibrahim, tapi akhirnya membuat dirinya bersimpuh meletakkan segala sesuatu yang membuatnya merasa tinggi hati.

Ketika suara itu, panggilan itu, telah paripurna dalam segenap intuisinya, ia menghampiri seorang gembala domba. Diberikannya jubah bersulam emas beserta mahkota bertahta permata, kemudian berganti mengenakan pakaian dan penutup kepala sang gembala yang terbuat dari bulu hewan.

Syahdan, saat itu semua malaikat seraya berdiri memandang Ibrahim.

“Betapa agung kerajaan yang kini dimiliki Ibn Adham,” ujar para malaikat.
“Ia telah membuang pakaian dekil duniawi, dan kini mengenakan jubah agung kemiskinan.”

Ibrahim Ibn Adham, sorang legenda sufi, memilih menghilang dari Kerajaan Balkh, dan mengembara ke arah barat untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa (asketisisme). Dengan dan dalam kealpaan harta.

Demikian tentang manusia pengembara.


* * *



Kampung Pettarani, Makassar 1 Desember 2006.

______________
* Seperti dikisahkan Goenawan Mohamad, dalam kolom Catatan Pinggir, majalah TEMPO edisi 39/XXXV/20-26 November 2006

sumber gambar: http://synthetikflesh.deviantart.com/art/flower-14366553
Selengkapnya...

kehendak



Setelah runtuhnya otoritas gereja di Abad Pertengahan, hampir tanpa kecuali, semua pemikiran yang kemudian berkembang menempatkan nalar (rasio) sebagai hakikat jiwa. Satu yang paling terkenal adalah ungkapan Rene Descartes ‘cogito ergo sum’– eksistensi manusia adalah aku yang berpikir.

Akal, atau intelek, atau rasio, atau kesadaran, atau dan seterusnya, dianggap sebagai titik tolak dalam menjelaskan relitas. “Hanya kerja akal-lah yang paling bisa dipercaya,” katanya.

Arthur Schopenhauer (1788–1868) menepis semua anggapan itu. Menurutnya, hakikat jiwa manusia bukanlah rasio. Rasio hanya berada dipermukaannya saja. Dibawah rasio, sesungguhnya ada representasi dari kehendak (will). Dialah yang mengontrol kesadaran.

Kadang-kadang, rasio memang seolah mengendalikan kehendak. Tapi itu sifatnya hanya membantu keinginan ‘kehendak’ bisa tercapai. “Untuk sebuah benda yang tidak diinginkan, kita punya alasan rasional mengapa kita tidak menginginkan benda tersebut. Tetapi, kita bisa membuat dalih atau pembenaran yang seakan-akan rasional, demi sebuah benda yang sangat kita inginkan.

Pendeknya, rasio adalah ‘alat’ bagi kehendak.


Tujuan serta sikap manusia pun bukan terletak di dalam rasio. Melainkan di dalam kehendak. Bahasa sehari-hari menunjukkan dengan tepat, bahwa watak manusia ada pada hati bukan pada kepala.
‘Hati yang baik’ lebih mendalam dan lebih bisa dipercaya ketimbang ‘pikiran yang jernih’. Agama menjanjikan pahala bagi kesucian hati (moralitas), tapi belum tentu untuk keunggulan kepala (rasio/intelek).

Manusia yang berebut makanan, hubungan seksual, atau tingkah laku anak-anak pada umumnya, bukan mengandalkan proses berfikir sebelumnya. Sumber perbuatan mereka adalah dorongan kehendak setengah sadar untuk hidup.

Manusia kelihatannya saja ditarik dari depan. Yang sebenarnya, mereka didorong dari belakang. Manusia mengira dibimbing oleh apa yang terlihat oleh indera (tahap awal kerja rasio). Kenyataannya mereka didorong oleh instink-instink alamiah (kehendak/hasrat) yang dirasakannya.

Kehendak bagi Schopenhauer adalah Id bagi Sigmund Freud (1856–1890).
Dikatakan, bahwa manusia memiliki tiga sub sistem yang berinteraksi dalam kepribadiannya. Id, Ego, dan Superego.
Id adalah bagian jiwa yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia. Id adalah pusat instink (hawa nafsu), yang oleh Freud dipisahkan menjadi dua macam. Yakni (1) Libido– instink reproduktif yang menjadi energi konstruktif dalam kelangsungan hidup manusia; (2) Thanatos– instink destruktif dan agresif.

Libido merupakan instink kehidupan, seperti yang terlihat pada manusia yang berebut makan, hubungan seksual, ataukah tingkah anak kecil. Thanatos merupakan instink kematian, seperti yang dilakukan Kurt Cobain (vokalis Nirvana) pada 8 April 1994, menembakkan sebutir peluru ke kepala sendiri.

Meski Id melahirkan kehendak, namun ia belum mampu untuk merealisasikan keinginannya secara mandiri. Untuk itu, Ego dibutuhkan agar proyek kehendak Id bisa terealisasi.

Menurut Freud, Ego adalah mediator segitiga antara tuntutan ‘instink’ kehendak, tuntutan ‘rasio’, serta tuntutan realitas di luar kehendak. Ego-lah yang selalu rajin tawar-menawar dengan Id (kehendak). Sehingga manusia kelihatan hidup sebagai ‘makhluk rasional’.

Superego adalah internalisasi dari norma-norma sosio-kutural masyarakat. Tak usah heran, ketegangan tentu akan sering terjadi antara Superego (kehendak sosial) dengan Id (kehendak individual).

Ego-lah yang kemudian tampil sebagai jembatan atas konflik keduanya.
Ada seorang prajurit TNI yang sedang dimaki-maki kasar oleh komandannya. Maka Id– kehendak mempertahankan hidup si prajurit– refleks bereaksi, kiranya membalas hinaan tersebut.
Tetapi Ego memperingatkan, bahwa yang ada di depan adalah bos sendiri. Kiranya perlu Id ketahui, dalam sistem ke-TNI-an (Superego), melawan bos sama saja ‘cari-mati’.

Interaksi antara ketiga sub sistem inilah (Id, Ego, dan Superego) yang menjadi dasar psikoanalisa perilaku manusia. Begitu anggapan Freud.

Anggapan Schopenhauer lain lagi. Ia tetap kukuh, bahwa meski ‘kehendak naluriah’ (Id) kadangkala tunduk pada rasionalitas luar individu (Ego yang memihak Superego), tetapi itu semata-mata dilakukannya hanya untuk ‘mempertahankan kelangsungan hidup dirinya’.

Sikap patuh Id kepada Superego, tidak diartikan tunduknya ‘kehendak’ terhadap ‘rasio’. Kehendak hanya menuruti saran rasio (Ego), bila saran tersebut akan menjamin kelangsungan hidupnya sendiri (Id).
Manakala sebaliknya, saran rasio dianggap justru mengancam stabilitas hidup Id, maka kehendak (Id) akan menggugurkan petimbangan-pertimbangan rasional. Itu misalnya terlihat dalam tindakan bunuh diri atau bom bunuh diri.

Dialektika antara rasio dan kehendak lebih pada pengabdian ‘Si Pembantu’ (rasio) kepada ‘Sang Majikan’ (kehendak). Schopenhauer sendiri mengumpamakan “Kehendak adalah orang kuat yang buta, yang mengendong orang lumpuh yang melek (rasio)”.

Minus ‘kekuatan kehendak’, rasio tak ada gunanya. Rasio tak punya dua kaki untuk menjalankan skenarionya.

Jika demikian adanya, implikasi dari pemahaman ini, ketika esensi manusia bersumber pada kehendak, maka dengan senidirinya dunia manusia sebenarnya dunia penderitaan.

Ya, itu karena kehendak identik dengan keinginan. Sementara apa yang diinginkan selalu lebih besar, lebih banyak, lebih rakus ketimbang apa yang diraih. Keinginan tak pernah berhingga. Naluri manusia selalu ingin menuntut yang lebih.

Dunia manusia yang dipenuhi kehendak adalah dunia penderitaan. Sebab usaha untuk memenuhi keinginan setiap ‘kehendak’ justru kesia-siaan semata. Kehendak tak akan pernah bisa terpuaskan. Kehendak yang terpenuhi, selalu menciptakan kehendak baru yang lebih serakah. Kehendak tak mengenal kata ‘cukup’ dalam kosa katanya.

Maka manusia yang hidup hanya untuk menuruti kehendak, niscaya semata-mata akan dijadikan ‘budak’ oleh kehendak.

Dunia manusia adalah dunia penderitaan. Hidup kata F.W. Nietzsche adalah tragedi dari persaingan kehendak untuk berkuasa. Dalam tragedi, tiap detik, genderang perang ditabuhkan. Di setiap sudut kehidupan manusia, selalu ada kekerasan, pertentangan, kompetisi, atau konflik. Pemicunya tak lain semata-mata perseteruan kehendak.

Setelah manusia memiliki apa yang sejak dulu diidamkan, rasa bosan selanjutnya datang. Segera timbul keinginan lain. Tapi diujung sana, kebosanan lain juga menunggu. Apa reaksi anak kecil ketika melihat mainan baru? Mainan lama di genggamannya serta-merta dicampakkan terabaikan.

Darinya, kebijaksanaan hidup tentulah tidak terletak pada pemuasan kehendak.
Kebahagiaan hidup tidak tergantung pada seberapa banyak yang kita miliki (have). Melainkan keber’ada’an (is) kitalah yang menentukan kebahagiaan sejati.
Banyak yang bergelimang, namun tetap mengeluh mengaku tak jua bahagia. ‘Ada’ kitalah yang lebih penting ketimbang isi kantong.

Kebijaksanaan tentulah kebahagiaan. Kebijaksanaan hidup berarti bagaimana mengatasi kehendak. Manusia keliru, jika mengira kebahagiaan akan datang bila telah berhasil menaklukkan dunia (eksternal). Justru, diri sendiri-lah (internal) yang harus dijinakkan guna menciptakan kebahagiaan.

Orang bijaksana, memiliki pengetahuan yang tak banyak unsur kehendaknya. Pengetahuan yang jernih adalah ‘obyektifitas’ yang terbebaskan dari nafsu (kehendak). Bila pikiran menembus nafsu, ia akan mampu melihat objek sebagaimana adanya. Pikiran yang bijaksana, memiliki visi yang jelas tentang dunia dan kehidupan. Begitu gambaran Schopenhauer tentang manusia ‘jenius’.

Spesies terendah (tumbuhan dan binatang) bertindak hanya berdasarkan naluri kehendak. Seekor monyet, secara naluriah tahu bila api unggun sumber kehangatan di malam hari. Tapi karena ketidakunggulan pengetahuan atas naluri, beratus-ratus abad berlalu, monyet tak bisa-bisa juga membuat api.

Pun proses serupa terjadi pada manusia. Maksudnya, banyak manusia masih hidup dalam ‘fase monyet’. Fase terpenjaranya rasio atas kehendak. Akibatnya manusia fase ‘jenius’ ibarat pemandangan minor di tengah hiruk-pikuk mayoritas monyet.

Melalui seleksi ketat, alam hanya menghasilkan sangat sedikit manusia ‘jenius’ di antara berjuta-juta ras manusia. Hukum alam memang begitu adanya.
Lihat ‘batu mulia’ yang mengkristal di perut bumi. Ia baru bisa berkilau, bila dengan sabar berhasil ditempa proses seleksi alam bertahun-tahun lamanya.
Batu mulia adalah minoritas di antara berjubel-jubelnya kerikil, karang, pasir, bahkan lumpur.

Manusia ‘jenius’ berbeda dengan manusia kebanyakan. Karakternya maladaptif (cenderung sulit menyesuaikan diri dengan aktifitas dunia yang penuh kehendak). Ia juga asosial (asing dengan riuh keramaian).
‘Jenius’ selalu berpikir yang fundamental, abadi dan universal. Manusia kebanyakan, selalu berpikir dipermukaan, temporer, dan serba sesaat.
Apa boleh buat, konsekuensi dari manusia ‘jenius’ adalah pengisolasian diri dalam dunia ‘kesendirian’ bahkan ‘kegilaan’ sekalipun.

Martin Heidegger (1889-1976) membenarkan tentang keterasingan kehidupan manusia ‘jenius’. Menurutnya, ‘kesendirian’-lah hakikat personal manusia yang tidak mungkin dihindarkan.

Bedanya, manusia ‘jenius’ kata Heidegger adalah Dasein, yakni ia yang terus-menerus hidup dengan mempertanyakan ‘Ada’-nya yang otentik. Sementara manusia ‘kebanyakan’ adalah das Man, ia yang memilih hidup tidak-otentik dengan membiarkan orang lain memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya.

Eksistensi das Man itu tidak ada (kosong). Sebab memutar roda hidupnya– cara berpakaian, cara bertutur, gaya hidup, berpikir, selera, sampai cara mengunyah sekalipun– dengan dituntun orang lain melalui norma atau konvensi sosial sesat.

‘Publik Figur’, iklan, mode, media massa, populerisme adalah ciri ‘manusia kebanyakan’ (das Man). Dia yang terinveksi ‘penyakit populer’ akan bertindak berdasarkan keinginan orang lain. Popularitas hanya akan memaksa orang untuk menipu diri sendiri. Senyum sana-senyum sini, meski hati sebenarnya sedang sedih.

Kemasyhuran dan popularitas adalah bodoh kata Schopenhauer. “Kepala-kepala orang lain merupakan tempat celaka untuk dijadikan rumah kebahagiaan sejati.” Kebahagian tidak datang dari orang lain. Itu justru tersimpan di dalam diri. Dan manusia ‘jenius’ (Dasein), setiap saat berusaha menggali di kedalaman nurani (moralitas).

Kehendak tentu saja adalah kehendak untuk hidup dan memaksimumkan kehidupan. Dan titik akhirnya, ia berpusat pada sistem reproduksi. Motif manusia melakukan hubungan seksual adalah strategi dari ‘kehendak’ demi memaksimumkan kehidupannya.
Benar kata Freud, bahwa “segala sesuatu didasarkan oleh libido”. Kehendak hidup (libido)-lah dasar dari setiap tindakan manusia.

Reproduksi alias melahirkan keturunan, semata-mata dorongan untuk menciptakan ‘reinkarnasi’ individual Sang Ayah dan/atau Sang Ibu. Di mata orang tua, anak adalah wujud diri yang baru. Orang tua sebenarnya memandang anak sebagai medium untuk menginjeksi dan mewariskan sifat-sifat (identitas) dirinya.

Perhatikan kecenderungan seorang Ayah, selalu menginginkan anak laki-laki. Perhatikan kecenderungan seorang Ibu, selalu mendambakan anak perempuan. Anak tak lebih dari strategi ‘kehendak’ lewat sistem reproduksi untuk mencoba membuat diri abadi.

Lagi kata Schopenhauer, menghancurkan hasrat bereporoduksi adalah kebajikan dan jalan untuk mengatasi kehendak. Orang-orang suci penganut tekun ajaran Budha (atau agama-agama ‘ortodoks’ lain), menolak untuk berhubungan dengan perempuan. Itu agar kemurniannya bisa terbebaskan dari nafsu kehendak. Bahkan di India, banyak yang menggembok alat kelamin demi menjaga hasrat seksualnya tidak bertingkah macam-macam.

Sifat yang dibenci kehendak adalah ‘kekalahan’. Bagi kehendak, kekalahan adalah representasi dari kematian. Sementara kematian musuh utama dari kehendak. Kehendak tidak menyukai kekalahan, sebab kekalahan sama saja menghambat pertumbuhan (pencapaian) kehendak. Kekalahan adalah negasi dari ‘kehendak untuk hidup’.

Seperti aturan dalam pertarungan ‘Gladiator’ (tawanan perang, politik, kriminal, budak-budak) di Colloseum Romawi. Kematian bagi ‘Sang Pecundang’, kehidupan bagi ‘Sang Pemenang’.

Bagi kehendak, hanya ada dua yang mungkin di dunia ini; Menang atau Kalah (Hidup atau Mati). Oposisi biner seperti ini adalah ‘metafisika semu’ yang diciptakan ‘kehendak’ guna mempertahankan eksistensinya.

Akhirnya, kematian-lah penaklukan paling akhir dan radikal atas ‘kehendak untuk hidup’. Impuls-impuls kehendak akan meredup bilamana kematian menjelang. Pada manusia, ketika sistem reproduksi tidak lagi berfungsi secara efektif (menopause), itu pertanda kematian tinggal menunggu waktu.

Kemenangan atas kehendak hanya bisa diperoleh melalui kematian. Tapi Schopenhauer sama sekali tidak menyarankan untuk bunuh diri, ”Destruksi yang disengaja pada eksistensi diri yang individual adalah tindakan sia-sia dan bodoh, karena kehidupan pada umumnya tidak dipengaruhi olehnya.”

Bunuh diri hanya mematikan kehendak individu. Tidak bagi kehendak manusia (dunia) secara umum. Dalam satu kematian yang disengaja, terdapat beribu-ribu kelahiran kehendak baru.

Manusia ‘jenius’ sangat rindu pada ‘kematian’. Sebab kematianlah kunci pembuka penjara ‘kehendak’. Beda dengan manusia 'monyet', baru membicarakan kematian, bulu kuduknya berdiri entah apa maksudnya.

Manusia ‘jenius’, menghadapi kematian dengan ketenangan sikap dan kemerdekaan. Bukan dengan tetesan ‘mubazir’ air mata.


* * *

Kampung Pettarani
, Makassar di sekitar Oktober 2006.

sumber gambar: http://browse.deviantart.com/?q=hand&order=9&offset=0#/dyaj1f


Selengkapnya...

Lontong



Benarkah, bahwa makhluk hidup yang isi kepalanya terdapat seoonggok organ lunak berukuran dua-kepalan telapak tangan disatukan, yang berfungsi untuk mengelola sistem informasi berkesinambungan, sehingga disebut makhluk berakal itu, sebenarnya adalah makhluk hidup yang paling tolol?

* * *


Syahdan, sebelum Perang Dunia II meletus. Ilmuwan Albert Einstein melayangkan surat kepada Franklin Delano Roosevelt, Presiden Amerika Serikat. Isinya, tentang kabar bahwa Adolf Hitler sedang mengembangkan sebuah senjata baru yang luar biasa dahsyatnya: bom atom.

Di akhir surat, Einstein menyarankan agar Amerika Serikat sebaiknya mendahului pengembangan senjata itu. Sebelum Jerman berhasil melakukannya.

Saran Einstein diterima. Dalam waktu singkat, Amerika meresponnya dengan menggelar suatu proyek rahasia dengan sandi “The Manhattan Project”. Misinya sama, mengembangkan bom nuklir. Di tangan kendali J. Robert Oppenheimer, ahli fisika nuklir, proyek itu pun sukses*.


Proyek itu sukses melahirkan sebuah benda yang bentuknya mirip lontong dari baja seberat 4 ton. Panjang 3 meter. Diameter 0,7 meter. Diberi nama Little Boy.

Lontong itu dimasukkkan ke dalam perut pesawat B-29 bernama Enola Gay yang sedang parkir di Pulau Tinian, dekat Guam, Lautan Pasifik. Wilayah ini, dulunya direbut Amerika Serikat dari tangan Jepang pada 23 juli 1944.

Dini hari 6 Agustus 1945. Tepatnya pukul 02:45 waktu Tinian atau 01:45 waktu Hiroshima. Enola Gay lepas landas dari Tinian menuju Hiroshima.

Menurut catatan William D. Parson, co-pilot Enola Gay, pukul 09:09 waktu Tinian, lanskap kota Hiroshima sudah terlihat dari jendela depan pesawat. Begitu Enola Gay melintasi Jembatan Aioi, lewat 30 detik dari pukul 09:15 waktu Tinian (08:15 waktu Hiroshima), lontong tersebut dijatuhkan.

Sehabis melepas Little Boy, Enola Gay langsung menukik 155 derajat ke atas. Berbelok ke utara menghindari efek ledakan. Little Boy sendiri terjun bebas sekaligus memulai aksinya*.

Aksi dari benda yang mirip lontong itu kurang lebih demikian: bahan peledak di pantat Little Boy yang telah terpicu, menimbulkan kejut. Gelombang kejut menekan bagian utama bom yang sejenis peluru tapi berbahan Uranium-235. Melewati selongsong dan berujung pada bola Uranium-235. Selanjutnya, 'reaksi fisi' (pembelahan) pun mulai bekerja.

Teori 'reaksi fisi', pertama kali ditemukan oleh empat ilmuwan Jerman– Otto Hahn, Lise Meitner, Fritz Strassman, dan Otto Frisch– mengatakan inti atom-atom berat (radioaktif) seperti uranium bisa dibelah dengan menembakkan sebuah neutron. Partikel ideal untuk membelah inti atom.

Inti atom yang menyerap neutron akan menjadi tak stabil, lalu memecah diri. Dalam sebuah bom, proses tersebut berjalan secara terus menerus. Satu neutron yang ditembakkan ke setiap fisi, akan menyebabkan pembelahan menjadi dua. Dari dua, menjadi empat, empat menjadi delapan, delapan menjadi enambelas. Begitu seterusnya. Kadang-kala ini disebut juga reaksi berantai.

Proses pembelahan neutron terjadi dalam tempo sangat singkat. Hitungannya satuan piko detik (1 x 10 pangkat -12 detik). Reaksi berantai yang tak terkendali itu, menghasilkan radiasi sinar gamma dan sejumlah besar energi.

Pada Uranium seberat satu kilogram, ia mampu menghasilkan energi 23,7 juta kwh. Bila energi ini digunakan untuk menghidupkan bola lampu 100 watt, maka selama 30.000 tahun ia akan terus nyala tanpa henti.

Sekarang, bayangkanlah Little Boy, lontong yang beratnya empat ton.

Hanya 43 detik waktu yang dibutuhkan Little Boy untuk meledak sejak dimuntahkan Enola Gay. Tepat pada ketinggian 580 meter di udara. Di atas Rumah Sakit Shima.

1/10.000 detik setelah ledakan, dalam radius 17 meter dari pusat ledakan (hypocenter), panas mencapai 300.000 derajat celcius. Sementara yang sampai ke Rumah Sakit Shima sendiri sekitar 6.000 derajat celcius.

5 menit setelah ledakan, asap atom menguar laksana cendawan putih raksasa. Warga Hiroshima yang berada dalam radius 5 kilometer dari pusat ledak, sekonyong konyong binasa oleh zat radioaktif. Dari yang masih ngemot puting payudara ibu ataupun yang sudah aki-aki. Langsung maupun dalam hitungan hari. Kalaupun nafasnya sanggup megap-megap, menderita cacar kulit bahkan mutasi genetik. Bila sedikit beruntung, korban terkena cikal-bakal kanker atau leukimia.

* * *


Hingga saat ini, menurut desas-desus, jumlah koleksi lontong yang ada di permukaan planet ini, telah sukses mencapai angka ribuan lebih. Tersimpan rapi di Amerika Serikat, Rusia, India, Pakistan, Cina, Iran, Israel, Korea Utara, dan seterusnya.

Nah, andaikata, lontong-lontong itu disebar ke penjuru bumi, lalu dalam hitungan mundur ‘tiga-dua-satu’ masing-masing pantatnya dipicu sehingga 'reaksi fisi' bekerja, maka mungkin sekali, bumi yang diameternya 12.756 kilometer dan luas permukaannya 510 juta kilometer persegi ini, tempat dimana kaki setiap makhluk hidup memijak, hancur bercerai-berai tak ubahnya kotoran sapi.

Tidakkah ini bukti, jika makhluk hidup yang isi kepalanya terdapat seoonggok organ lunak berukuran dua-kepalan telapak tangan disatukan, yang berfungsi untuk mengelola sistem informasi berkesinambungan, sehingga disebut makhluk berakal itu, sebenarnya adalah makhluk hidup yang benar-benar tolol?


* * *
Kampung Pettarani, Makassar 14 Desember 2006

___________
* Seperti dikisahkan Wicaksono, pewarta TEMPO, dalam artikelnya berjudul Di balik Sebuah Bom Nuklir, pada majalah tersebut edisi 29 Desember 2002.

* Tulisan Bimo Nugroho, anggota perkumpulan Institut Studi Arus Informasi (ISAI), berjudul Menyusuri Jejak John “Hiroshima” Hersey dalam majalah PANTAU edisi Oktober 2002. Dalam tulisan tersebut, Nugroho menceritakan tentang sebuah karya jurnalistik dari John Hersey berjudul Hiroshima, yang dipublikasikan pertama kali di The New Yorker 31 Agustus 1946.
Salah satu paragrafnya berbunyi demikian: “Albert Einstein, sang penemu rumus atom, memutuskan untuk membeli 1.000 eksemplar edisi
Hiroshima itu, tapi ia tak berhasil mendapatkan satu pun dilapak-lapak penjual majalah.”


sumber gambar: http://www.flickr.com/photos/indonesiaeats/5069819396/

Selengkapnya...