Fenomenologi Briptu Norman Kamaru



"Saya nggak tahu siapa yang upload, saya malah dikasih tahu sama ibu saya. Sempat takut juga, takut kalau kenapa-kenapa." Briptu. Norman Kamaru, detik.com, Rabu (6/4/2011).

Tak perlu pula menjelaskan ulang siapa Briptu Norman? Selama di ruang tengah masih ada TV, dan TVnya masih sering dinyalakan, semua pasti sudah tahu.

Yang menarik justru pertanyaan:
1. Lho kok bisa, video lip sync kualitas butek kamera HP milik Norman diklik hingga lebih sejuta orang?
2. Lho kok bisa, seminggu terakhir ini, Norman hilir-mudik kayak piala bergilir, jadi rebutan segmen acara stasiun-stasiun TV?


Norman dan Jejaring Internet


Kasus Norman, sekali lagi bukti betapa spektakulernya new media!
Siapapun tak pernah tahu, bakal berefek sejauh mana materi-materi yang ia unggah di situs-situs jejaring. Lihat kutipan di atas, Norman sendiri aja garuk-garuk kepala gak habis pikir!”


“POLISI GORONTALO MENGGILA”. Dari judul sudah menarik, memancing rasa ingin tahu. Seorang teman malah nyeletuk waktu temannya mengirim tautan ini ke dindingnya, “Bikin ulah apa lagi ini polisi Indonesia!” Everybody know so well-lah kalau bicara soal aparat kita.

Eh… tahu-tahu, setelah pencet tombol play lalu pause (biasa, mempersilahkan loading sampe finish dulu) yang ada malah gambar laki-laki berseragam, lip sync sambil joget india tipis-tipis.
Awalnya kecewa, ekspektasi teman saya itu meleset. Cuma kalau diperhatikan lebih jauh, video ini lucu dan norak-norak gimana gitu. Gemesin. Tautan ini lalu diteruskan ke teman-temannya yang lain.

Dimulailah pola epidemik. Sebangsa dengan virus H5N1 penyebar flu burung (burung beneran). Dalam kajian ilmu sosial-budaya, pola ini disebut penyebaran dikursus (discourse) oleh Michel Foucault (1926 – 1984). Yang nyebar, namanya agen-agen diskursus. Agen itu misalnya; yang ngirim ke dinding teman saya, teman saya sendiri, dan temannya teman saya, yang jumlahnya gak tahu (boro-boro ngitung).

Apalagi kalau agen-agen si penyebar ini masuk kategori “top-markotop agent”. Maksudnya, tipe figur ngetop-lah. Ada tingkatan-tingkatan memang dalam dunia agen.
Tipe ini, ibarat kalau SMU dulu suka tergabung dalam suatu geng pertemanan, si opinion leader-nya. Yakni mereka yang kalau sekali ngomong, yang lain pasti banyak ikut angguk-angguk.
Alasan angguk-angguknya macam-macam. Ada yang karena hormat, memang percaya kalau dia cerdas, takut, karena dia cakep, keseringan ditraktir, suka diantar pulang, suka diberi contekan pas ujian, atau sekedar ikut-ikutan doang. Pokoe peduli setan, yang penting setuju wae-lah.

Agen tipe inilah salah satu faktor kunci menyebar luasnya suatu diskursus. Tipe inilah kalau di Facebook, sekali update status, yang nanggepin bejibun. Tipe inilah, karena dia cakep, sekali upload foto-foto narsis, hidung-hidung belang pada keluar dari sarangnya. Cerewet muja-muji busuk minta nomor HP segala. Kalau gak dapat, malah nyetor nomor HP sendiri. Dahsyat kan tipe 'top-markotop agent'?

Kasus Norman boleh jadi seperti ini. Awalnya ada yang iseng doang ngupload ke YouTube. Lalu link-nya disebarkan ke beberapa orang. Yang nengok, mungkin motifnya kenal Norman. Atau paling tidak karena penasaran, ingin tahu seperti teman saya. Berhubung videonya memang menggelitik, lalu diteruskan. Diteruskan lagi. Diteruskan lagi. Efek domino. Eh… tahu-tahu yang klik udeh nembus sejuta umat.

Dulu kasus Sandy Sondoro juga begitu. Cuma doi menarik bukan karena lucu dan gemesin. Suara Sandy memang jempolan. Prestasi dan Talenta nyanyinya tokcer di level Eropa. Biar begitu, pola penyebarannya sami mawon kayak Norman. Redaksinya saja yang beda. Kalau Norman sisipan kata-katanya “Eh… ada video polisi India lucu, nonton deh!” Nah kalau Sandy, “Eh… ada penyanyi dari Indonesia yang suaranya keren lho, nonton deh!”

Tentu karakter orang-orang yang suka terhadap kedua video ini juga berbeda. Coba deh bikin statistik, berani taruhan, kalau yang suka lihat link videonya Sandy Sondoro rata-rata tipe penuntut kualitas, selektif dan paling tidak wawasan musikalitasnya bukan katak dalam tempurung.

Justin Bieber pun begitu. Awal ngetopnya lewat YouTube juga. Suaranya bolehlah. Masih brondong, imut-imut, cute pula. Hasilnya, link video diklik berjuta juta orang.
Nah, kalau ada yang bikin statistik lagi, berani taruhan, ini dia selera cewek-cewek yang suka pecicilan teriak-teriak histeris di depan panggung konser entah sebabnya apa.

Paling seru video keong racun. Kasusnya sama. Cuma kalu dipikir-pikir masih mending Briptu Norman. Olah vokalnya masih bisa ada harapan. Meski butuh polesan dikit biar lebih stabil. Nah ini, hahahahaha…??? (Isi sendiri kelanjutannya).
Berani taruhan, biarpun gak ada yang bikin statistik sebelumnya, Yang suka lihat link video ini kebanyakan laki-laki yang nafasnya suka tiba-tiba gak teratur pas ketemu cewek centil. (eh… saya gak nulis kalimat Shinta dan Jojo itu cewek macam-macam lho yee… silahkan baca ulang…hahahahha).

Biar begitu, Shinta dan Jojo juga adalah bukti otentik kalau new media berbasis WWW itu memang spectacular and unpredictable. New media yang hukumnya cuma satu: HUKUM MENARIK.
Mampu tidak, materi-materi yang kita unggah itu “menarik” berjuta-juta pengunjung yang berserakan itu untuk datang melihat?


Norman dan Industri Televisi


Lho kok bisa, seminggu terakhir ini, Norman hilir-mudik kayak piala bergilir, jadi rebutan segmen acara stasiun-stasiun TV?

Era peradaban kita sekarang, ibaratnya masih dalam masa transisi dari penggunaan media satu arah (televisi, majalah, koran, dll) ke media yang mampu interaktif (Internet). Khususnya untuk materi-materi berkilobyte besar macam file audio-visual.

Kalau sekedar untuk kebutuhan magazine dan newspaper on-line, peradaban kita bolehlah. Hanya saja, dalam urusan meng-online-kan televisi misalnya, kita masih butuh terobosan pengembangan teknologi penyimpanan dan pengolahan (memory) data yang besar lagi super-cepat (real time). Di samping itu, akses perangkat teknologi internet ini belum ramah kantong kecil.

Andai kata telah sempurna, yakin deh… ruang tengah rumah kita tak butuh TV lagi. Semua ganti Internet. Someday kita bahkan mampu bikin TV sendiri. Tinggal bikin akun dan kelola, selesai. Begitu itu salah satu keuntungan sistem interaktif.

Berhubung belum, TV masih jadi mainstream. TV, sekali “update status” (menampilkan segmen acara), yang “klik” (nonton) acaranya = seberapa banyak orang yang punya TV dan mampu menjangkau frekuensinya. Ratus-ratus juta kalau ada yang nekad menghitung.

Ibarat waktu SMU dulu, TV adalah sebuah geng raksasa. Pengikutnya banyak. Nah, stasiun-stasiun TV itulah figure atau opinion leadernya. Yang kalau sekali ngomong, yang nonton pada angguk-angguk semua.

Maka TV adalah “super top-markotop agent”. Ini dia nih faktor paling berpengaruh yang bikin Norman makin kesohor. Di jejaring, ada semacam acara yang menampilkan celotehan-celotehan konyol bertajuk Tonyblank Show. Lumayan ngetoplah lewat Facebook. Cuma karena gak pernah dieksplorasi stasiun TV, jadinya gak seheboh Norman.

Salah seorang sahabat (senior KOSMIK UH) yang kebetulan bekerja di Trans TV pernah cerita, kalau acara ini susah masuk TV. Terlalu riskan untuk mengontrol rambu-rambu aturan. Misalnya menghindari hal-hal berbau SARA. Itu memang benar, soalnya bintang utama acara ini penderita schizophrenia alias “orang gila” beneran (baca “orang gila”nya pakai tanda kutip). Celotehannya susah dikontrol.

TV-lah yang mampu menggiring ke mana opini masyarakat berkembang. TVlah yang paling mampu menetukan isu apa yang harus dikonsumsi (masyarakat) penontonnya.

Karena TV dan internet sama-sama media, Hukumnya sama-sama satu: HUKUM MENARIK. Mampu tidak acara itu menarik pantat pemirsa sebanyak-banyaknya untuk duduk betah menonton.

TV itu juga industri. Apalagi dalam sisitem negara liberalis seperti kita. Hidup-matinya TV bergantung dari dari seberapa besar iklan yang tayang. Bagan analogi industrialisasinya begini: ibarat billboard di jalan protokol, pengiklan hanya mau pasang reklame di tempat-tempat strategis yang bisa dilihat orang sebanyak mungkin. TV seumpama jalan protokol, buntut-buntutnya pengiklan hanya mau beriklan di acara yang penontonya banyak. Duit dari pengiklan itulah yang dipakai bayar buat ongkos produksi acara, sekaligus bayar gaji manusia-manusia yang bekerja di dalamnya.

Dan berlomba-lombalah produser-prodoser satsiun TV. Pontang-panting mikir bagaimana membuat kemasan suatu acara yang hukumnya mampu menarik penonton sebanyak mungkin. Ketemulah Kata Kuincinya “PENONTON HARUS SEBANYAK MUNGKIN”. Kalau bisa sampai tak berhingga, itu lebih bagus lagi.

Maka dalam kaca mata Industri , TV sesungguhnya tak peduli; mau suaranya Sandy Sondoro dari emas kek, Justin Bieber itu lebay kek, Shinta-Jojo itu gak bisa apa-apa selain joget mirip orang tripping doang kek, atau Norman itu Brimob ‘lucu bin norak-norak gimana gitu kek, gak penting.
Yang penting dan produser TV pasti peduli adalah di belakang Sandy itu ada penonton berjuta-juta gak? Di belakang Justin itu ada penonton berjuta-juta gak? Di belakang Shinta-Jojo itu ada penonton berjuta-juta gak? Di belakang Norman itu ada penonton berjuta-juta gak? Kalau iya... buktinya apa?

“Tuh… di YouTube!” jawab setan belang yang kebetulan lewat.
“Lah udeh… mikir apa lagi dodol! Bawa cepat, itu orang-orang ke sini buat tampil di acara kita. Dia itu lumbung duit setan!” Seru produser-produser TV kasak-kusuk.

Melihat TV, sama dengan melihat snapshot gambaran kebudayaan suatu masyarakat. Apa dan bagaimana TV, begitu pula cerminan masyarakat kita. Kalau hari ini TV kita berisi; relity show murahan yang hambur-hambur air mata dibuat-buat; hantu-hantu gentayangan; kuis-kuis tengah malam yang doyan pamer belahan dada; atau rekayasa infotainment untuk mendongkrak popularitas artis; justru jangan salahkan TVnya. Apalagi produser-produser acara itu.
Masih mending kambing hitamkan masyarakatnya. Kok mau-maunya, seleranya kompak ramai-ramai kayak gituan.

Sekali lagi, TV itu industri. Kasarnya orang jualan. Dimana-mana, pedagang nyarinya tempat ramai untuk jualan. Bodoh kalau dagang di tepi jalan sepi. Salah-salah yang beli malah setan belang penghuni kuburan.

Kalau hari ini, gara-gara video butek kualitas HP, Norman keluar-masuk stasiun TV, jangan keburu uring-uringan bikin kampanye “Matikan TV” apalagi ngecap TV haram segala. Nanti, kesan yang ada malah mirip videonya Norman; lucu dan norak-norak gimana gitu.

TV seumpama pisau. Masa sih, gara-gara ada bocah mati ditusuk pisau oleh jambret, lantas kita bikin solusi musnahkan pisau di dunia ini. Lha… lantas ibu-ibu kalau lagi masak di dapur piye, potong-potong sayurnya pake ape? Jurus karate?

* * *

Di era jejaring, saling menarik perhatian adalah hukum mutlak. Semua saling berebut, sejauh mana materi-materi yang kita unggah itu mampu ‘menarik’ perhatian orang lain sebanyak-banyaknya.

Seperti kata Mark Zuckerberg, dalam dunia bernama internet, kita ingin memperhatikan sekaligus lebih senang bila diperhatikan. Bahkan untuk sekedar mengisi ”Apakah yang kita pikirkan” sekalipun. Tak ada yang sudi memajang foto terjeleknya sebagai picture profile. Citra adalah titik tumpu penanda identitas kita.

Ibarat anak kecil yang merengek, kita bahkan mungkin tega membanting vas bunga di ruang tamu, untuk sekedar mendaptkan perhatian Ibu. Sebab ini saatnya perang discourse, perang citra-citra.

Inilah masa, ketika hal-hal lucu, aroma pornografi, tingkah konyol, wajah-wajah cantik, talenta-talenta berkualitas, paham ideologi, data-data rahasia, berita, karya ilmiah, puisi-puisi, curhatan diary, esai-esai kebudayaan, bahkan orang jualan sayur pun, bercampur-aduk saling beradu mencoba mencuri perhatian.

Welcome to the new world! World Wide Web.


* * *

Kampung Pettarani, Makassar 13 April 2011

sumber gambar: http://barunews.com/cinta-farhat-video-briptu-norman-terbaru/

Selengkapnya...

19 sutradara versi eeduyhaw.blogspot.com yang musibah besar kalo nda nonton karyanya. Part II



Sebelumnya, sekali lagi award ini jelas sifatnya subyektif belaka.
Tentulah deskripsi mengenai sutradara-sutradara yang dimaksud, sama sekali jauh dari mewakili gambaran sebenarnya. Apalagi, itu hanya didasarkan pada beberapa film-filmya yang kebetulan sempat ditonton. Padahal kalau filmographynya dicek, daftar karyanya berderet-deret.

So, kalau ada yang tak setuju dengan penggambaran atas sutradara-sutradara yang namanya disebutkan, itu wajar dan sah adanya.
Karena itu, dengan subyektifitas blog ini, si jenius-jenius yang pantas disebutkan namanya itu adalah:
(bagi yang belum menyimak urutan sebelumnya, klik disini)

13. Wong Kar-wai

Tak ada kalimat lain lagi yang lebih pas untuk menggambarkan gaya directing sutradara yang lahir di Shanghai dan hijrah ke Hongkong ini: jagoan ruang sempit.

Hanya dengan dua atau tiga rumah sempit sebagai lokasi shooting, dia sudah mampu mengemas sebuah cerita apik melalui film pendek The Hand yang merupakan salah satu dari 3 kumpulan film pendek berjudul Eros bersama Steven Soderbergh (Equilibrium) dan Michelangelo Antonioni (The Dangerous Thread of Things ). Ceritanya pun tak lazim, tentang obsesi seorang lelaki tukang jahit terhadap perempuan pelacur langganan jahitannya.

Tematik film Wong Kar-wai sejauh ini memang berkutat tentang cinta. Namun ia bukan penganut romantisme cinta yang happy ending. Ia malah lebih suka mengeksplorasi dimensi hubungan cinta yang rumit, suram dan terbelenggu suatu keadaan kompleks. Itu kemudian divisualkan di dalam ruang sempit seumpama kontrakan kecil.

Wong Kar-wai bahkan sanggup menghabiskan puluhan menit durasi filmnya untuk mengalirkan kisah yang terjadi dalam masa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di dua kamar sempit itu. Lihatlah In the Mood for Love yang masuk nominasi Palme d’Or Cannes 2000. Film yang berkisah tentang seorang jurnalis(Tony Leung) dan sekertaris (maggie Cheung) yang tinggal bersebelahan kamar di sebuah apartemen kecil. Hampir 50% lokasi pengambilan gambarnya hanya seputar apartemen itu.

Dengan kecenderungannya itu, tak ayal gambar-gambar Wong Kar-wai lebih berkutat pada ekspresi kuat (close up) wajah tokoh, detil makna gesture, dan eksplorasi simbolis properti-properti kecil semisal foto, gantungan kunci, dasi, atau sapu tangan yang menyiratkan makna tertentu atau penanda mengalirnya masa.

Wong Kar-wai tergolong debutan di level sutradara dunia. Bisa dikatakan My Blueberry Night adalah Film yang menandai kedatangannya sekaligus karya perdananya di level internasional. Film yang berkisah mengenai pejalanan cinta seorang penjaga Cafe kecil (Jude Law) dan seorang gadis (Norah Jones) yang baru patah hati dan akhirnya juga hidup di seputar Cafe. Seperti biasa, ruang sempit Cafe dan sepi-senyapnya esensi kehidupan hiruk-pikuk kota besar menjadi titik eksplorasinya. Alienasi diri masyarakat perkotaan, juga adalah karakter lain dalam film-film Wong Kar Wai.

Dan itu, disampaikan hanya melalui shot-shot sempit, di dalam ruang-ruang yang sempit.


12. Joel Coen & Ethan Coen (Coen Brothers)

Sungguh, gaya directing duo bersaudara ini begitu mencuri perhatian. Sodoran visualisasinya fresh.

Sayang, karya terakhirnya True Grit berbicara lain. Walaupun masuk nominasi Oscar tahun ini, tapi rasa-rasanya film ini meleset dari ekspektasi besar orang-orang terhadap kekhasan karakternya. Entah, disebabkan setting cerita wild west jaman koboi yang memang dunia baru dalam penggarapan mereka. Ataukah ingin mencoba hal lain. Ataukah faktor over-produktifnya mereka beberapa tahun terakhir dalam menghasilkan karya. Entah.

Tapi lupakan itu. Mari menyaksikan No Country For Old Men. Di film inilah gaya Coen Brothers dipertontonkan habis-habisan. Dan pantas jika apresiasi yang diterimanya dari Oscar adalah Best Picture sekaligus Best Director.

Kalau membaca sinopsisnya, jalan cerita film bergenre thriller ini mungkin terlihat datar saja. Tentang Llewelyn Moss (Josh Brolin) yang dikejar-kejar pembunuh bayaran berdarah dingin yang diperankan apik oleh aktor kawakan Spanyol Javier Bardem. Namun, manakala memperhatikan strategi visualisasinya, kesan datar itu lenyap seketika.

Thriller kebanyakan, suasana tegangnya dibangun lewat penggambaran terang-terangan proses kekerasan. Misalnya metode membunuhnya dengan cara mata dicungkil. Atau dampak kekerasannya bikin sebuah rumah banjir darah, porak-poranda, dan ada tangan terpenggal di mana-mana.
Di film ini, itu seolah sengaja dihindari. Yang ditonjolkan justru ekspresi tokoh lewat mimik, pilihan adegan yang tak biasa, cara berfikir (motivasi tindakan), isi dialog yang menohok dan simbolisasi brutalisme lewat properti-properti sederhana. Brillian, bayangkan hanya dengan medium sederhana itu, film ini justru terlihat lebih thriller daripada film thriller sendiri. Rasa cold-bloody lebih menyegat di lidah. Jenius dan “orisinil”.
Nonton deh. Ini film wajib nonton.

Gaya khas duo ini diampilkan lagi di Burn After Reading. Uniknya, di sini keduanya seperti mempermainkan thriller dengan cara mencampurkan unsur komedi-satire di dalamnya. Garis besar ceritanya berlatar-belakang dipecatnya seorang agen CIA di masa “mati segan hidup tak mau-nya” dunia mata-mata pasca perang dingin. Dunia yang identik dengan kode-kode rahasia dan pembunuhan-pembunuhan terselubung diolok-olok dengan motivasi kejadian yang sebenarnya hanya disebabkan satu hal: kekonyolan. Dan itu makin memikat sebab khas eksplorasi medium sederhana Coen Brother yang hanya mengandalkan mimik satire serta karakter tokoh yang unik secara emosional.

Begitu juga di A Serious Man. Kali ini thrillernya ditinggalkan, dan yang tersisa drama-komedi-satire. Sutrdaranya diserahkan sendirian di tangan Ethan. Tapi screenplay tetap berduet dengan Joel.
Eksplorasi adegan, utamanya ekspresi tokoh-tokoh yang bermain, tetap menjadi titik fokus directing. Dan humor yang dihasilkan benar-benar terasa lain. Lucunya, tak biasa. Tapi, kalau nontonnya ngarep sampai dibuat ngakak-ngakak pegang perut, wah... salah besar. Ini bukan komedi murni, ini satire. Sarat dengan olok-olok kecerdasan, bukan penonjolan tingkah bodoh yang menjurus absurd. Ini konyolnya eleganlah gitu.

Joel &Ethan Coen hebat di pengolahan secara tak biasa ekspresi tokoh-tokohnya. Gambar-gambarnya cenderung tenang (still). Sebab lebih ingin berbicara melalui penonjolan mimik, gesture dan pengadeganan secara umum. Di situ kekuatan khas duo bersaudara ini.


11. Bernardo Bertolucci

Mungkin film-filmnya tak terlalu populis dan jarang bergema di telinga. Kecuali tentu saja The Last Emperor yang memborong 9 kategori dari 9 nominasi Oscar yang diikutinya. Termasuk kategori bergengsi Best picture dan Best Director di tahun 1987.

Hanya saja, dari dua filmnya yang lain, corak berfikir sutradara asal Italia sungguh misterius. Ia seperti punya kedalaman ketika memilih tema cerita yang akan diangkat.

Di The Dreamers ia seolah menyalurkan hasrat pemberontakannya. Film yang bersetting tentang pergolakan kelompok anak muda khususnya di kalangan mahasiswa Prancis 1968 yang berdampak pada peregeseran nilai-nilai konsevatif ke liberalisme di negara tersebut. Idealisme pemikirannya seolah diwakilkan ketika memutuskan untuk memilih naskah ini.

Urusan sinematografi Bertolucci sendiri, sama baiknya dengan sutradara yang lain. Tak perlu diragukan. Hanya kekuatan dirinya, mungkin memang tidak dititik-beratkan ke hal teknis tersebut. Ia lebih fokus pada apa yang ingin disampaikan sebuah film. Maka di kedalaman ceritalah tujuan eksplorasinya.

Itu juga yang kemudian membuat dirinya menyutradarai Little Buddha. Kisah yang mengangkat kembali hikayat hidup Sidharta Gautama yang mahasuci di masa mudanya. Diperankan Keanu Reeves, film yang ia tulis sendiri ini, sangat tepat mengangkat angle cerita Sidharta Gautama dalam masa transisi sebagai putra mahkota kerajaan yang kemudian memilih pergi dari istana dan menjadi pertapa suci untuk menemukan kesejatian.

Dua tema film ini sungguh menarik dicermati, sebab isi kepala atau ideologi director biasanya tercermin dari film yang diangkatnya. Dan Bertolucci menjadi sosok sutradara misterius, sebab seperti ada sesuatu yang kerap gelisah dalam dirinya. Sesuatu yang bisa jadi sangat religius dan sifatnya pribadi.

Bernardo Bertolucci, sosok misterius yang menyertakan kegelisahan diri dalam film garapannya.


10. Franciss Ford Coppola

Kapan menyangkut sutradara senior, maka penyakitnya cuma satu: tak banyak yang bisa diceritakan. Sama seperti Scorsese, pengalaman Coppola tak terhitung. Belakangan ia lebih banyak bertindak sebagai produser.

Trilogi Godfather adalah masterpiece-nya. Sampai sekarang, setiap nonton film dengan setting dunia mafioso, film inilah patokan pembandingnya. Ciamik memang jalan ceritanya.
Inilah satu-satunya trilogi yang menggondol 2 kali oscar kategori Best Picture dan hanya gagal di sekuel terakhir (nominasi). Rekor fantastis ini belum terpecahkan.

Coppola menarik justru ketika ia mendirect Dracula. Tak ada hujan apalagi badai, ia bagai ingin tamasya sejenak setelah habis-habisan serius menguras jidat di Godfather. Dari judulnya, jelas film ini adalah horor-mistis dunia makhluk penghisap darah pemburu keabadian. Tapi dasar Coppola, ia nyeleneh sedikit memasukkan unsur humor. Tanpa merusak nuansa mistisnya. Ramuannya pas.

Manipulasi gambar, dan teknik sinematografi film ini juga patut diacungi jempol. Ambil contoh bagaiamana ia menciptakan gerak bayangan si Dracula yang selalu tak sesuai dengan wujud aslinya. Kocak, namun dibuat tentu dengan manipulasi teknik tinggi.

Harusnya, film terakhir Coppola mesti di bahas. Khususnya Youth Without Youth, dari theatrical release poster-nya kayaknya wajib jajal. Sayang belum sempat nonton. Namun biar bagaimanapun, hasilnya tak akan berpengaruh banyak. Kesimpulannya tetap, Coppola adalah master serba bisa yang tak terkungkung dalam satu genre spesialis. Ia multitalenta, hebat dalam apapun.

Tak banyak yang bisa diungkit lagi manakala menyebut Franciss Ford Coppola. Begini saja ringkasnya: Bayangkan bila disebuah ruangan dipenuhi pecandu film. Tiba-tiba ada yang menyebut namanya. Nah, siapapun diruangan itu yang sempat mendengar, lidahnya langsung kelu gemetaran. Siapapun!


9. Danny Boyle

Director asal Inggris yang awalnya melejit lewat film Trainspotting. Tipikal penganut pop-culture yang sama sekali tak meningalkan unsur-unsur kritis dalam cerita.

Kalau menyimak The Beach dengan saksama, maka cerita film ini sebenarnya tak hanya menyodorkan sepak terjang dunia pelancong di tengah lanskap indah pulau Phi-phi, Thailand itu. Di balik itu, ada kritik Boyle tentang betapa utopisnya harapan-harapan yang selalu menyelimuti setiap lubuk hati backpacker; suatu tempat yang indah dan damai bernama tanah surgawi. Harapan yang juga menjadi dambaan setiap orang.

Dan itu disampaikannya secara tak langsung agar tak berkesan menggurui. Itu justru implisit di balik eksplorasi pop-culture gambar indahnya akan laut nan biru, pasir putih, hutan kecil tropis, dan kerlap-kerlip malam di pulau itu.

Di film Millions sikap kritisnya lebih kelihatan. Kisah anak kecil yang menemukan tas beirisi penuh tumpukan uang. Gaya berceritanya pop abis, enak dicerna. Sinematografinya juga memukau. Kadang malah dia melabrak kecendeurngan mainstream dengan membagi frame menjadi dua atau tiga bagian di tengah-tengah cerita berlangsung. Atau memasukkan unsur grafis dalam gambarnya. Tapi ya itu tadi, ia sama sekali tak pernah lupa kecenderungan kritisnya akan ironi gap mencolok negara-negara maju dan negara dunia ke-tiga yang berkembang dengan cara merangkak.

Lewat gayanya ini, Boyle kemudian memperoleh puncak apresiasi dengan menyabet Oscar sebagai Best Picture dan Best Director lewat film Slumdog Millionaire. Film yang mengambil setting cerita kisah hidup pemuda dari perkampungan kumuh Mumbai di tengah semrawutnya kehidupan kota di negara berkembang sekelas India. Cerdasnya, perjalanan hidupnya itu teruraikan melalui keikutsertaannya lewat acara TV “Who Wants To Be A Millionaire”.

Gaya pop-culture Boyle juga masih terasa lewat film 127 Hours. Diangkat dari kejadian nyata terjepitnya tangan seorang pemanjat tebing Aron Ralston (James Franco) di tengah gurun batu gersang Canyon, Utah. Film ini masuk nominasi lagi dalam kategori Best Picture dan Best Director di ajang Oscar tahun ini.Tak terlalu kental memang, tapi paling tidak, karakter Boyle masih terasalah di awal-awal pembukaan film. Utamanya labra-labrak framenya, atau penambahan garis asap pesawat yang melukis langit biru. Itu khas sinematografi lanskap Boyle.

Strategi pop-culuture film Boyle itu ibarat ‘kompromistis yang pas-lah’. Kisah filmnya selalu enak ditonton dan disajikan dengan sinematografi indah. Tapi ia tak pernah melupakan sisipan argumen kritis. Apalagi kenakalannya dengan labrak-labrak frame serta penambahan unsur grafis.
Danny Boyle itu bukan tipikal sutradara yang ‘lebih disatu sisi tapi kurang di sisi lain’. Warna-warni ramuannya selalu pas.


8. Giuseppe Tornatore

Ini dia si pendongeng hebat dari negeri Pizza. Giuseppe Tornatore.
Hebatnya, dongeng Tornatore malah berkisah tentang karakter tokoh yang tak biasa. Malas dia dengan karakter macam putri salju, pangeran tampan, legenda tokoh-tokoh heroik atau pemimpin-pemimpin besar sekalipun. Baginya setiap orang, siapapun dia, kisah hidupnya adalah drama yang sama hebatnya. Ia tipikal pendongeng realis.

Maka di Cinema Paradiso, Sutradara asal Italia ini mulai berdongeng tentang hikayat bioskop dan si pemutar pita film. Latar belakang tokohnya saja sudah terasa unik. Dari latar inilah, ia lalu mengembangkan cerita dengan memasukkan bagaimana situasi sosial dan sikap budaya masyarakat tempat bioskop itu berdiri. Bagaimana berlalunya waktu, bergantinya rezim politik tercermin dari perubahan-perubahan yang mengiringi bioskop itu. Lewat bioskop dan si pemutar pita film itulah romantisme sejarah sosial-budaya terekam.

Lalu di film Malena, tentang istri cantik tentara berpangkat rendahan yang ditinggal pergi suaminya berperang. Di perankan apik oleh aktris spektakuler Monica Bellucci.
Kisah ini berpusat pada sosok Malena dan seorang anak kecil akil baligh yang jatuh cinta kepadanya. Anak kecil inilah yang menjadi saksi hidup bagaimana perjuangan Malena mencoba melanjutkan hidupnya di tengah kota dimana semua lelaki ingin menidurinya, dan sebaliknya di lain sisi semua perempuan tentu ingin merajamnya.
Sinematografinya beauty. Pengadeganannya kuat. Simbolisasinya keren. Urusan teknis, Tornatore memang rapi di semua sisi. Kehebatannya lengkap.

Lalu tengok lagi The Legend of 1900. Kisah tentang sebuah kapal laut dan seorang bayi yang ditinggal penumpangnya. Bayi itu kemudian tumbuh dewasa bersama buruh kapal dan menjadi pianis otodidak hebat. Uniknya, seumur hidup pianis ini tak sekalipun pernah menyentuh daratan. Film ini sekaligus nostalgia Tornatore dengan kapal uap berbahan bakar batu bara dan dunia buruh di geladak mesin. Shootingnya hampir 100% sengaja diisolir tak keluar dari atas kapal.

Memang begitu ciri khas Tornatore, di sekitar perjalan hidup tokoh utamanya selalu disisipkan dinamika perubahan sosial, budaya, politik atau teknologi. Dan tokoh-tokoh yang diangkat itu, ibarat orang-orang “tak terpikirkan” yang ada di keseharian kita. Tapi di tangan Tornatore, kisah hidup mereka ternyata menyimpan drama-romantik.

Giuseppe Tornatore, si pendongeng unik,jagoan dramaturgi. Tapi jangan salah sangka, bukan berarti ia lemah sinematografi, sebab gambar-gambar yang ia bangun sedramatis karakter pilihan tokoh-tokohnya dan lika-liku kisah yang ia ciptakan.


* * *
Oke segitu dulu. Seperti sebelumnya bersambung lagi... harap maklum... ^_^


Kampung Pettarani, Makassar 10 April 2010

Selengkapnya...

19 sutradara versi eeduyhaw.blogspot.com yang musibah besar kalo nda nonton karyanya.


Pada akhirnya, prinsip memilih tontonan film sama ketika pilah-pilih musik mana yang catchy di kuping.

Dulu, sewaktu ke sekolah masih pamer lutut, alias celana bolehnya cuma yang buntung, asal dengar lagu enak, kuping pasti tampung. Cara tampungnya macam-macam. Kadang bela-belain beli kaset, CD, kaos, nonton konsernya, lengkap pajang poster di dinding kamar segala. Dalam hati, kereeen sudah!

Nah, kalau bagusnya gak bikin ngebet-ngebet amat, ya... paling tidak, di sore hari beberapa penggal syairnya mendayu-dayu di kamar mandi. Teriak-teriak kesurupan serasa vokalis band, nyaingi suara adzan maghrib mesjid dekat rumah.


Cuma masalahnya, di dunia ini, tiap bulan apalagi tiap tahun, lagu atau penyanyi baru yang bagus tuh mbrojol begitu aja ogah ikut program KB. Walhasil daya tampung mulai kewalahan. Dipaksakan posternya dibeli semua, plafon kamar mandi ikut-ikutan tak cukup buat nempel.

Banyak bukan berarti variatif. Kadang malah suka muncul kayak gini; Loh kok lagu ini mirip sama lagu itu ya? Band ini bagus kok, cuman masalahnya dia seolah niru band yang itu lho! Loh kok penyanyi ini lagunya gitu-gitu aja ya...

Dimulailah seleksi alam. Survival of the fittest. Hanya yang benar-benar okelah yang bisa bertahan. Sosok penyanyi/ band selanjutnya menjadi garansi bagus-tidaknya suatu karya musik. Kita mulai nyinyir siapa yang berhak tarik suara di gendang telinga. Fanatisme!

Film pun sama dengan musik. Sama-sama gak doyan KB. Buntut-buntutnya, prinsip seleksi alam juga berlaku dalam soal ini. Paling umum berdasarkan genre maupun aktor siapa yang berperan.

Hanya saja, kalau patokannya cuma dua indikator tersebut, rasa-rasanya kurang gimana gitu menentukan bagus-tidaknya sebuah film. Di belakang itu masih ada director (sutradara). Si pemilik sah hak-hak istimewa menetapkan apapun itu ketika sebuah film dalam proses pembuatan.

Sutradaralah yang menjatuhkan pilihan skenario (cerita) apa yang bakal dia garap. Sutradaralah yang mengajukan ke rumah produksi naskah ditangannya, ngobrol semalaman dengan produser-produser tentang rencana produksi. Atau sebaliknya, produserlah yang mendatangi sutradara, mengajak untuk menggarap naskah di tangan produser. Sutradaralah yang acak-acak script (breakdown), buat bahan visual pengadeganan cerita dibangun. Sutradaralah yang memimpin casting dan memilih aktris dan aktor mana yang cocok memerankan tokoh-tokohnya.

Pokoe kalau disimpulkan, menonton film itu sama dengan menonton isi otak si sutradara.

Oleh sebab dan maka dari itu, nama sutradara cukup penting tatkala film mulai jadi candu bagi mata dan isi kepala. Nama sutradaralah yang dijadikan taruhan dalam sebuah film. Tak usah heran jika di setiap opening title, sampul kemasan DVD atau poster yang terpajang di dinding bioskop, pasti ditulis a film by (nama sutradara). Bukan yang lain.

Nah, berlandaskan alasan bertele-tele inilah, hingga eeduyhaw.blogspot.com memilih beberapa nama sutradara sebagai jaminan mutu, saat ngobrak-ngabrik lapak DVD bajakannya orang, bingung di depan loket bioskop mau nonton film apa, atau sesaat sebelum pencet tombol download secara ilegal saat searching file film di internet.

Tentulah pilihan nama-nama di bawah ini sifatnya super-subyektif belaka. Sebab, bahkan setiap festival film kelas internasional pun punya standar sepihak sendiri-sendiri. Cannes, Berlinale, Venice, BAFTA, atau Academy Award (Oscar) punya gaya masing-masing dalam menyeleksi karya film yang terdaftar.
Lagipula, wong namanya juga memilih, siapa atau apapun itu mustahil obyektif. Paling banter subyektifitasnya yang obyektif, alias neng kene neng kono buntut-buntute subyektif juga.

Tapi bukan berarti pilihan ini seenak udel tanpa pertimbangan. Standar eeduyhaw.blogspot.com sederhana saja. Apakah film-film si sutradara biasa atau tak biasa. Titik.

Maksudnya biasa dan tak biasa itu begini:
- Apakah bobot muatan cerita (naskah) punya kedalaman (filosofis) biasa atau tak biasa?
- Apakah tekhnik penyampaian (struktur) cerita, alur, sudut pandang cerita biasa atau tak biasa?
- Apakah teknik (sinematografi) framing, strategi pecah scene menjadi shot, coloring, tekstur gambar, gerak dan blocking kameranya biasa atau tak biasa?
- Apakah eksplorasi (pengadeganan) tokoh (aktor/aktris) seperti mimik, gesture, isi dialog biasa atau tak biasa?
- Apakah eksplorasi unsur film lainnya biasa atau tak biasa?
-Apakah track record film-film si sutradara di ajang festival film internasional apresiasinya biasa atau tak biasa?

Poin-poin ini kemudian digunakan untuk mengukur minimal 3 film karya sutradara-sutradara yang dimaksud.

Tanpa harus berbusa-busa lagi, apalagi membuat dada anda dongkol menggerutu, si jenius-jenius yang pantas disebutkan namanya adalah:

(Ups... sorry kelupaan... urut-urutan namanya disusun berdasarkan rangking terbawah... pe-a-ce ^_^)
(oke lanjut... rewind sedikit) si jenius-jenius yang pantas disebutkan namanya itu adalah:


19. Robert Rodriguez

Buat ajang pemanasan, nama ini cocok disebut sebagai pembuka.
Hanya saja, bagi yang tak hobi adegan duel tembak-tembakan apalagi suka mau pingsan lihat ceceran darah, tangan terpotong, kepala terpenggal, atau usus terburai sebaiknya urungkan niat nonton film-film garapan sutradara asal Meksiko ini. Paling tidak film-filmnya sejauh ini.

Trilogi Film El Mariachi, Desperado, dan Once Upon A Time In Mexico menjadikan namanya diperhitungkan di level internasional. Film yang berkisah tentang legenda El Mariachi, pengamen gondrong yang kerap nenteng hardbox gitar menyusuri kacaunya kota Meksiko, yang di dalamnya tersembunyi senjata mematikan.

Dari awal sampai akhir, film ini penuh hambur-hambur peluru. Uniknya, kemasan adegannya macho, teknik berceritanya cepat, langsung ke sasaran. Hasilnya, Kesan yang muncul memanjakan penonton. Sebab tak bertele-tele sepeti kebanyakan film action pada umumnya.

Rodriguez, yang juga berduet dengan Frank Miller serta (sutradara tamu) Quentin Tarantino di film Sin City, sangat alergi dengan alur kaku yang mengalir kelamaan. Ia menyajikan filmnya layaknya fast food, cepat saji. Sebab ia paham kecenderungan pelanggan restoran, tak boleh bikin pantatnya dongkol gara-gara menunggu.

Metode GPL– Gak Pake Lama– inilah filosofinya. Coba rasakan sajiannya itu di film Planet Terror. Malah disini ada bonus tambahan lain. Rodriguez berusaha mengisi unsur konyol saat membangun cerita pada setiap adegan. Naluri comedy of brutallityaction-nya muncul. Hal yang membedakan film ini dengan trilogi El Mariachi. Selebihnya, soal kegemarannya bantai-membantai dan hambur-hambur darah tuetep dong!

Paling kreatif di film Machete. Rodriguez makin teliti membuat dialog-dialog yang bukan lagi lucu, tapi konyol dan cerdas. Menciptakan motif-motif nyeleneh yang mendasari tindakan tokoh-tokohnya. Ada juga gugatan sosialnya tentang eksploitasi imigran. Serta tampilan adegan-adegan liar, seliar imajinasinya menari-nari. Inilah metamorfosanya, otak brutalismenya makin konyol.

Saking konyolnya, dalam film ini ia menambahkan audio tepukan tangan, teriakan gembira atau gumaman wow... serupa penonton bioskop ketika ada adegan seru seperti antek-antek musuh kepalanya dibelah dua, si perempuan cantik bugil di kamar mandi atau usus si bajingan ditarik dari perutnya untuk dijadikan tali buat si jagoan melarikan diri.

Tambahan tepukan serupa penonton di bioskop ini, betul-betul penemuan kreatif dan “original”. Ia seolah mengolok-olok kecenderungan film-film laga. Semacam kritikan surealis buat pecandu film, bahwa bahkan brutalisme pun kita jadikan hiburan renyah serenyah popcorn.

Itulah Rodriguez, makin brutal, sadis, penuh darah, tapi ongol-ongol. Filmnya ekstra-entertain.


18. Takeshi Kitano

Ingat ‘Benteng Takeshi’? Nah, doi inilah yang memerankan si raja yang mesti dikalahkan peserta saat sesi pertempuran menggunakan mobil-mobilan dan senjata air. Benar, raja yang suka jahil getok-getok kepala ajudannya pakai kipas. Dia juga produser sekaligus director di acara TV jepang ini lewat label rumah produksi ‘Office Kitano’.

Tentu saja bukan lantaran itulah namanya bisa icip-icip di eeduyhaw.blogspot.com. Zatoichi adalah salah satu filmnya yang pantas diacungi jempol. Ceritanya berkisah tentang seorang jagoan samurai buta yang berkelana ke mana-mana.

Takeshi, ketika memaknai seperti apa keinginan film-filmnya, adalah tipikal penyuka konsep gambar sederhana namun sarat nilai artistik. Di film ini, ia tak bergantung pada setting ribet ala film-film silat budget besar. Tapi tanpa itu, ia mampu menunjukkan kecerdasan lewat penciptaan gerak dan framing kamera yang indah.

Adegan pertarungannya juga bukan tipe murahan sebab lebih mementingkan tata artistik adegan ketimbang unsur action (perkelahian) seru macam punya Jet Li atau Jackie Chan yang berlebih-lebihan itu.

Ia juga lihai dalam mengolah bahasa tubuh. Setiap lirikan mata, kepala yang menoleh, wajah yang tertunduk, gerak jari, atau bibir yang mengatup adalah kesengajaan yang ia tampilkan untuk mengundang rasa penasaran, sebab ternyata memang mempunyai makna surprise pada shot atau scene selanjutnya.

Eksplorasi simbolis lewat properti, serta keberpihakannya terhadap kekayaan tradisi budaya jepang terasa halus. Bahkan unsur alam seperti angin, api, salju, air, atau musim di film ini adalah untaian kata-kata filmis.

Satu yang menjadi ciri khasnya, selain sering membintangi sendiri tokoh utama filmnya, yakni mengemas setiap cerita dalam komedi satire secara terselubung. Zatoichi jelas bukan genre komedi, tapi menontonnya sering kita dibuat tertawa kecil melihat adegan-adegan di dalamnya. Cerdaslah pokoknya unsur komedi tipis-tipisnya.

Ciri khas ini ia bawa untuk dieksplorasi di film lainnya berjudul Achilles and the Tortoise. Di sini unsur komedi-satirenya semakin kental. Tapi tetap dengan seleranya yang tampil dengan konsep sederhana, set yang gak neko-neko, namun eksplorasi pengadeganan yang kuat.

Film ini bercerita tentang perjalanan hidup pelukis yang hingga masa tuanya sekalipun tak pernah mereguk sukses. Lucu, lucu sekali. Tapi lawakannya bukan tipikal Jim Carrey apalagi Opera van Java, yang kalau kebanyakan suka bikin perut mual. Ini komedi satire yang tune humornya gelap tapi bukan suram apalagi horor. Susah mendeskripsikannya, nonton deh sendiri. Tapi, kalau gak ketawa, marah-marahnya ke Takeshi jangan ke blog ini. (hehehe...)

Di film yang naskahnya ia tulis sendiri ini, loncatan-loncatan berpikir Takeshi dalam menciptakan babak-babak cerita sangat baik. Ia bahkan menggugat kritis tentang seni itu sendiri lewat dunia lukis. Sangat filosofis, itu nilai lain seorang Takeshi yang menonjol melalui film ini.

Film lainnya yang bernafas serupa adalah Glory to the Filmmaker! Sementara Outrage, sepertinya berdasarkan trailer, Takeshi sepertinya mencoba pengarapan gambar yang lebih serius (sayang belum sempat nonton… hihihii).

Kecuali tentu saja Outrage, menonton film Takeshi Kitano sama dengan menonton pengolahan bahan baku yang simpel tapi dengan tekhnik penciptaan adegan, sinematografi, simbol, makna yang memerlukan kemampuan artistik tinggi. Plus bonus gelak tawa kecil serta pandangan filosofis-kritis.


17. Steven Spielberg

Tak kenal Spielberg? Wuaaaduh... tak bisa berkata-kata deh kalau sampai iya.

Ia diidentikkan dengan film genre science-fiction. Kepiawaian sutradara dalam genre ini memang terletak pada manipulasi teknologi gambar. Utamanya tata artistik lalu dipadukan teknis editing.

Sebut saja E.T. the Extra-Terrestrial atau Jurassic Park, dimana ia menghidupkan kembali makhluk punah Dinosaurus, dalam artian cara geraknya benar-benar seperti hidup (nyata) di layar film.

Atau konsepsi masyarakat masa depannya dalam Minority Report. Mobil-mobil yang dibuat melayang. Jalan-jalan yang mengantung di udara. Serta tampilan-tampilan bangunan futuristik. Semuanya membutuhkan pemikiran blocking gambar yang tidak sederhana. Tentulah design produksi film ini butuh kecermatan dalam mengkonsepnya. Dan bila lensa kamera tak mungkin membuat manualnya, maka teknologi manipulasi gambar (efek khusus) pun berbicara.

Satu yang selalu disebut-sebut kehebatan sci-fi garapannya, temanya bukan untuk masa kini. Kelak, mungkin 1000 tahun ke depan, manusia di tahun itu akan tercengang bila sempat menonton film Spielberg, bahwa apa yang mereka tengah jalani telah diprediksi Spielberg 1000 tahun sebelumnya. Begitu karakter Spielberg memaknai filmnya.

Tapi bila memeriksa filmographynya, sebenarnya bukan cuma itu batas daya jelajahnya. Justru secara kuantitas ia banyak menelurkan film-film drama. Contoh Saving Private Ryan dan Catch Me If You Can.
Nah, paling menarik ketika ia menggarap Schindler List. Di situ ia benar-benar tampil sebagai sosok humanis yang berkisah tentang betapa menyedihkannya kemanusiaan di kamp-kamp konsentrasi NAZI. Gambar-gambarnya tampil klasik, polos, dan sengaja dibuat dalam coloring hitam-putih. Ceritanya berdurasi kurang lebih 3 jam, namun itu serasa masih belum puas bila menyimaknya. Dramatik.

Atau lihat pula The Terminal, bagaimana ia mengeksplor habis gambar dan cerita yang setnya 100% tak boleh keluar dari bandara.

Menariknya Spielberg, ia bisa selalu tampil tak terduga. Maka jangan heran, bila sewaktu-waktu ia muncul dalam ide yang tak terpikirkan sutradara lain sebelumnya.


16. Ang Lee

Sutradara asal Taiwan ini ibarat kata psikolog nyentrik. Gemar menyelam jauh ke alam psikis manusia. Kalau saja alam bawah sadar itu seperti taman kota, Ang Lee bakal tiap hari bikin tenda disitu, mengamati.

Akting kuat (berani) dari seorang aktor/aktris menjadi syarat utama untuk mendapat peran di filmnya. Brokeback Mountain satu buktinya. Film tentang homoseksual ini menyabet kategori bergengsi best director dan best film pada perhelatan Oscar-78 tahun 2006.

Lalu ada Couching Tiger, Hidden Dragon. Film yang masuk nominasi Ocsar lagi, menonjolkan aksi jurus-jurus silat sambil terbang-terbangan secara halus. Di bungkus sinematografi erotis lanskap alam Cina. Walau demikian, di luar itu, cerita film ini seperti kecenderungan film silat Cina pada umumnya.

Selepas itu, ia melahirkan film Lust Caution. Ini film yang bikin leher tercekat dan wajib tonton. Kalau habis nonton horor yang benar-benar seram itu pasti bikin dada debar-debar, nah psikologi cerita di film ini sama menakutkannya. Akting tokoh-tokohnya bikin tenggorokan tercekat.

Kerangka besar ceritanya (sinopsis) sepintas lalu boleh terlihat standar-standar saja, tentang gerakan sekelompok pemuda-pemudi kampus yang ingin merevolusi kaki tangan invasi jepang di Cina. Tapi penyelesaian ceritanya itu, sadis.

Mungkin anda akan terganggu dengan adegan-adegan seks Tony Leung bersama Tiang Wei yang berseliweran di mana-mana. Tapi maknanya sama sekali bukan mengarah ke mesum film biru. Seks di film ini justru inti dari perang psikis karakter-karakter tokoh dan kekuatan motifasi cerita disematkan.

Habis menonton film ini, seperti menimbulkan pertanyaan “Hah... iya ya, bagaimana jika betul-betul terjadi seperti itu?” lalu mulut mangap. Soalnya, kisahnya possible terjadi di kehidupan nyata. Cuma, rasanya tak ada orang yang sudi mengekspos bila memang mengalami seperti itu. Dan film ini lalu berani datang mengungkap itu, meski sebatas fiksi. Itulah indahnya imajinasi. (cuma ini terlepas dari soal debat agama loh ya... itu konteksnya lain)

Taking Wodstock adalah film berikutnya. Setting ceritanya diinspirasi kejadian nyata tentang usaha orang-orang muda flower generation menggelar demonstrasi make love not war melalui pertunjukan konser musik.

Meski kategori film ini ‘baik tapi tak terlalu spesial’, yang menarik diperhatikan adalah lompatan-lompatan wawasan Ang Lee. Kelihatan bila ia tak sempit seumpama katak dalam tempurung.

Ang Lee memang jarang menuliskan sendiri naskah filmnya, namun melihat caranya memilih skenario, sangat kelihatan kalau wawasannya luas. Terlebih soal eksplorasi alam bawah sadar manusia (individu). Ia lihai menggali, memunculkan dan memetik kemampuan puncak akting tokoh-tokohnya hingga tak ada lagi yang tersisa.


15. Martin Scorsese

Kakek gaek yang lahir tahun 1942 ini adalah sutradara keturunan Italia-Amerika yang daftar karya filmnya bejibun. Ia sangat produktif terhitung sejak film pertamanya Who's That Knocking at My Door di tahun 1967.

Tak banyak masalah yang bisa diceritakan mengenai gaya directing kakek kita satu ini ini. Maksudnya tak banyak masalah itu adalah semua teknis filmnya oke. Sinematografi oke. Strategi cerita oke. Bobot cerita oke. Semua lini oke waelah.

Cuma kalau menyelidiki loncatan pemikiran filmnya, kira-kira seperti ini.

Casino. Film ini bersetting cerita tentang sepak-terjang mafioso kakap di balik perjudian kasino-kasino besar. Karakter berdarah dingin dunia mafianya terasa. Penciptaan adegan melalui tokoh-tokohnya dapat. Komposisi frame, pergerakan kamera, hingga coloring gambarnya mantaplah. Bangunan cerita dan sub-plot juga baik dan cepat. Jadinya film ini enak ditontonnya.

Lalu Kundun. Tiba-tiba Scorsese jadi religius. Ia begitu dalam mengisahkan bagaimana bijaksananya Dalai Lama-14 yang dipaksa hijrah ke India akibat tekanan militeristis politik Cina. Ia jeli dan mampu menangkap pesona kearifan suasana hening tradisional keagamaan sudut-sudut alam Tibet. Tanpa sadar Scorsese seperti seorang budhisme.

Terakhir Shutter Island. Cerita film bergenre thriller-psikologis ini menarik. Hingga credit tittle naik, mata masih berharap sesuatu, masih menyisakan tanda tanya soalnya. Apa iya tokoh yang diperankan Leonardo DiCaprio itu adalah pasien rumah sakit jiwa yang sedang dalam program rehabilitasi khusus ataukah ia sebenarnya memang Marsekal AS? Lewat scene-scene ciptaannya, Scorsese sangat berhasil mengaduk-aduk otak penonton. Padahal lokasi pengambilan (set cerita) tak pernah keluar dari pulau (rumah sakit jiwa) itu. Ini film wajib nonton. Sebab walau lokasi simple, budget murah, tapi kemasan ceritanya unik.

Banyak sutradara, suka boros-borosin ongkos produksi. Pake teknologi canggih segala. Set lokasi yang mahal. Tapi di tangan Scorsese, beri bahan seberapapun, ia sanggup memolesnya jadi lebih keren.

Konsistensi, hasil dari kenyang makan asam garam film. Itu mungkin yang membuat karya-karya Martin Scorsese selalu oke dan tak mengecawakan.


14. Alejandro Gonzalez Inarritu

Aktifis. Rasanya itu julukan yang cocok buat sutradara asal Meksiko ini.

Peka dengan carut-marut masalah sosial, politik dan budaya masyarakat yang dampaknya tergambar di kehidupan sehari-hari tokoh-tokoh di filmnya. Bukan saja dalam skala di suatu negara, bahkan lintas masyarakat dunia sekalipun, ia tunjukkan seperti itu.

Di film Amores Perros, boleh saja ia mengambil judul tentang cinta. Tapi cinta dalam film ini hanyalah kegamangan, bahkan garang serupa Perros. Sebab di balik itu, ada tekanan yang lebih besar mendasari setiap motifnya. Cinta dalam film ini, hanyalah suatu medium yang digunakan untuk menyingkap gagasan yang sebenarnya. Suatu konsep tema yang menuntut perhatian serius, yakni komplektisitas kondisi sosial-budaya masyarakat Meksiko

Akan halnya di film Babel. Medan pemikiran sosial Inarritu justru makin mengglobal. Ia melihat komplektisitas masalah tokoh-tokoh di filmnya jauh lebih rumit. Ras dan negara kita boleh Meksiko, Amerika, Tokyo, atau Morroco. Namun, tidakkah kebijakan sosial-politik antar negara kita, kadang hanya tampil tak ubahnya palu besi yang justru mengekang hak dan kewajiban kemanusiaan kita.

Begitulah kondisi sosial-politik-budaya dunia, yang divisualkan Inarritu pada kedua filmnya ini.

Hebatnya lagi, unsur komplektisitas ini ia transformasikan ketika menyusun struktur cerita. Sehingga strategi ini, menjadikan nyawa dari gagasan besarnya kian terasa. Inilah yang menjadi ciri khas seorang Inarritu dalam memaknai filmnya. Si pengobrak-abrik sub-plot dan alur, serta tak membuat pusat cerita mengalir hanya pada satu-dua tokoh utama.

Bahkan kalau boleh dikata, tak ada istilah tokoh utama dalam kamus filmnya. Semua karakter yang terlibat adalah tokoh utama. Setiap karakter mengalirkan cerita masing-masing, yang boleh jadi saling bersinggungan secara tak sengaja dan tak kasualitas (sebab-akibat) satu sama lain.

Itu lalu ia ramu dengan menghindari penyakit aliran cerita monoton yang kerap timbul pada langkah-langkah struktur naskah segitiga. Awal film mesti dimulai dengan pengenalan tokoh-lah, pemunculan masalah-lah, proses masalah-lah, penyelesaian masalah-lah (klimaks) dan ditutup ending.

Strategi bercerita Inarritu ibarat struktur jaring laba-laba. Setiap sub-tema muncul bergantian, saling bersilangan antar satu jejaring dengan jejaring lainnya. Kadang makin diperindah lagi ketika alurnya ia bolak-balik sedikit. Ia tak ingin sok bijaksana menyodorkon solusi masalah. Ia malah membiarkannya mengambang, diserahkan ke masing-masing penonton.

Kompleks, sekompleks masalah sosial di dunia ini. Begitu bila menyimpulkan gaya Inarritu dalam satu kalimat pendek.

* * *

Oke segitu dulu deh… lanjutannya nanti. Ini saja panjangnya astagafirullah…

* * *

Kampung Pettarani, Makassar 31 Maret 2011

Selengkapnya...

Pertaruhan



Dunia datang hanya sekali. Sungguh, kesia-siaan belaka hidup yang tak diresapi. Siapakah sudi hidup dengan wajah bukan dirinya, melainkan badut yang berdiri gagu.

Lari, larilah sejauh mungkin. Ke ujung cakrawala atau ke angkasa malam. Meski tapak kaki dan sekujur tubuh, dikoyak-koyak pilu dan kegetiran.

Ini tentang pertaruhan.

Serupa dadu yang digelindingkan. Seumpama kartu yang dibagikan. Dalam hidup yang tak pernah pasti, keyakinan adalah barang taruhan. Pertimbangan matang adalah bahan analisa. Kita baru menjadi yakin, ketika semua nalar diri berkata "itu memang pantas untuk dipegang!"


Dan bila hidup telah dipetaruhkan. Doa-doa memanjatkan syair rindu. Nyanyian tentang harapan yang menunggu kenyataan. Menunggu di sudut bangku sepi itu, ketika musim hujan yang tak mau usai, menggigil sepanjang ujung tahun.

Lalu kita pun tertunduk. Saat resah mulai menghampiri. Lelah merasuk. Ataukah kita telah kecewa?

Dan bila hidup telah dipertaruhkan. Semoga keyakinan, seteguh penantian hati seorang kekasih setia. Yang setitikpun takkan pernah membersitkan kata pulang. Walau langit runtuh sekalipun.

Sungguh, kau tak harus ikut terseret menanggung deritanya. Cukup aku saja, keyakinan, harapan dan takdirnya yang mungkin hanya berwujud rasa pahit.

Dan bila hidup telah dipetaruhkan.


* * *

Kampung Pettarani, Makassar 22 Maret 2011


Sumber Gambar: dice by dgeocello on deviantart.com




Selengkapnya...