Direct Messages untuk akunnya bapak walikota terpilih Makassar.




Assalamualaikum, Pak Danny Pomanto & Dg Ical,

Bukan kebetulan sewaktu ini ditulis, durian, rambutan serta tentu saja hujan lagi deras-derasnya di kota kita. Memang sedang musimnya.

Sama seperti Jakarta. Hujannya maksudnya.

Malah di sana lebih parah. Itu yang kita lihat di pemberitaan. Bahkan pemimpin sekelas Jokowi-Ahok pun yang dipuja-puji ketika memimpin Solo dan Belitung Timur itu terpaksa mengakui bahwa parahnya kondisi Jakarta saat ini membuat keduanya merasa butuh proses tahunan untuk bisa betul-betul merampungkan program rehabilitasinya.

"Kita butuh waktu, kita harus belajar agar tidak mengulang kesalahan yang pernah dilakukan kota-kota di negara maju pada masa silam," kira-kira begitu jawaban yang diberikan kepada wartawan.

Soal banjir jakarta kita semua tentu turut prihatin.

Tapi bukan berarti kita juga ikut-ikutan lengah, bahwa sendainya didiagnosa, kota ini tampaknya mengalami fase gejala awal serupa yang dulu pernah dirasakan Jakarta.

Seumur-umur tinggal di kawasan Kecamatan Panakkukang, sekonyong-konyong rasanya baru beberapa tahun terakhir ini bisa menyaksikan Jalan A.P. Pettarani depan Ramayana-Pizza Hut ataupun belakang Kantor PU itu akhirnya rutin tergenang juga. Padahal hujan derasnya baru datang sehari.


Lalu, lampu merah Tugu Adipura depan PLTU menuju timur hingga depan M'tos, sepertinya sudah punya jadwal macet tetap. Jembatan Sungai Tello yang berada di tengahnya, juga sudah tampak kekecilan menampung volume kendaraan yang lewat. Lebih kelihatan seperti selang yang tersumbat.

Daerah-daerah yang tadinya resapan, satu-persatu berganti menjadi rumah toko atau kalau tidak rumah-rumah seragam milik pengembang. Depan STIMIK kawasan Perintis Kemerdekaan yang tadinya hamparan padang rawa membentang hingga ke belakang hutan pohon nipah, begitu cepatnya tertutup deretan toko-toko dan rumah bernyanyi.

Perilaku berkendaraan di kepadatan jalan juga makin laju, tapi ajaibnya makin masa bodoh juga dengan rambu-rambu apalagi etika. Saling salip adu gesit di tengah antrian entah di kejar apa. Meski tahu kalau sampai hari ini science belum mampu melahirkan ilmuwan penemu nyawa. Masa sih tuntutan roda ekonomi sampai nekat-nekatan seperti itu.

Kultur-sosial kita juga demikian. Makin absurd. Contoh pemandangan saudara-saudara yang kerap hadir di lampu merah. Ini soal usang, tapi faktanya masih susah menemukan jalan keluar yang tepat. Malah kok tampilannya makin muda-muda, sepintas lalu badannya kayak sehat-sehat saja.

Ini realitas di baliknya apa lagi? Apa ini kisah tentang pemulung Jakarta yang mampu punya uang simpanan puluhan juta di dalam gerobak ataukah memang benar karena tak ada pilihan? Tapi, masa sih sampai bilik ATM di pinggir jalan dipatok juga jadi lahan parkir dengan modal cuma sempritan, minus seragam apalagi karcis. Kalau kakek-kakek atau ibu-ibu masih mending, ini anak belasan yang dadanya tegap.

Data statistik menyatakan tingkat pertumbuhan ekonomi peradaban kota kita tergolong tertinggi dalam klasemen nasional. Bolehlah kita berbangga. Bilamana persoalan sosialnya masih itu-itu lagi, ya tetap saja namanya ironi.

Cerita klasik, ketika kota dengan kaki kanannya adalah geliat investasi bisnis yang agresif, tapi kaki kirinya masih susah mengasah kepekaan apalagi memberdayakan panti-panti sosial dengan layak. Cerita tentang ketimpangan. Klise.

Senang sekali, punya area publik keren macam Anjungan Pantai Losari dan Taman Rotterdam. Tapi rumor yang berhembus akan ketidaknyamanan pengunjung terhadap pedagang dan pengamen yang lebih mirip mengekori ketimbang menawarkan produk. Ekspektasi psikis pengunjung yang datang tentu cari ketenangan, bukan mengharapkan ketemu teror.

Tentu perlu lebih dipikirkan jalan tengahnya. Mungkin seperti strategi yang terdengar dilakukan di Surabaya. Tak perlu sampai hati menghilangkan, cukup penataan. Boleh jualan, tapi ngetem di satu sudut. Boleh ngamen tapi jangan datangi pengunjung. Pilih satu titik, nanti terserah orang yang datang atau melintas mau menyisihkan koin apa tidak. Itu terserah apresiasi masing-masing.

Tapi kita tentu saja salut, dengan ide pemikiran pengembangan kota hijau. Penguraian faktor magnet kepadatan kota yang terpusat di kawasan Losari yang rencananya disebar ke beberapa penjuru kota. Lebih-lebih rencana rehabilitasi kanal-kanal kembali kondusif yang konsepnya bisa sebagai saluran transportasi alternatif dan wisata kota. Ide progresif dan kreatifitas yang adil bagi semua pihak memang adalah kebutuhan mutlak agar kota bisa tumbuh secara sehat.

Kagum, ternyata bapak walikota kita punya akun twitter juga. Mungkin kalau ketemu wartawan TV dan Koran, akunnya disosialisasikan saja biar followernya bisa dari seluruh lapisan warga. Keep in touch dengan warga itu penting. Hitung-hitung bisa mengikis kendala sulitnya akses komunikasi warga dan pemimpin.

Paling tidak fungsinya bisa sebagai salah satu cermin, "apa sih keinginan warga riil sebenarnya?" Bukan hanya dijejali bisik-bisik orang-orang sekeliling yang mudah-mudahan bukan kompor-kompor jilatan 'asal bapak senang'. Apalagi maksud kapitalis terselebung pengusaha-pengusaha yang tipikal cuma bisa mikir laba segunung buat perut sendiri.

Sekali lagi, awalnya hanyalah agresifitas monopoli terhadap kue pembangunan disertai deru investasi bisnis tanpa perhitungan demi sebuah nama "kemajuan". Lalu datanglah lonjakan penduduk, dimana ada gula disitu ada semut. Mengorbankan lahan kosong, daerah resapan apalagi tanah pertanian. Sebab setiap manusia butuh tempat untuk bernaung dari yang mewah sampai kelas tripleks. Jalanan semakin terasa sesak. Setiap persimpangan berubah menjadi biang kemacetan. Bau tanah hilang berganti aspal atau pavin block. Air tak lagi bisa cepat meresap. Saluran got dan kanal makin kewalahan.

Kepadatan melahirkan kompetisi yang terlampau sengit. Akan ada banyak ijazah-ijazah yang menjadi penghias lemari. Maka ketimpangan tanpa kepekaan sosial hanyalah melahirkan kriminalitas. Kita tentu tak pernah mengharapkan kota kita mengarah menyerupai Gotham City yang setiap saat diliputi perasaan mencekam. Tak lucu kiranya membayangkan Dg Kulle mengganti seragam dengan kostum hitam-hitam bersayap kelelawar, mencoba menjadi Batman yang membekuk tukang hipnotis atau mengejar geng motor yang statusnya masih kreditan bapak.

Kita tentu memilih sosok yang terbaik ketika berada di balik bilik itu. Kiranya, tidak salah picca ji walikota ke depan adalah ahli desain tata kota. Anjungan dan reklamasi pantai masih soal fisik semata, kita medambakanu kemajuan pembangunan yang sepaket dengan peningkatan kultur-sosial-religi yang lebih humanis.

Sebab kota yang ideal bukan soal seberapa banyak pencakar langitnya, tapi seberapa nyaman dan aman warganya.

Terima kasih dan selamat bekerja bapak walikota serta wakil nantinya.



* * *
Kampung Pettarani, Makassar 29 Januari 2014
Sore-sore hujan, ketika iseng ketemu akun twitternya bapak @DP_dannypomanto.

sumber foto: "arsitektur manusia hari ini" eeduyhaw

Selengkapnya...

Ketupat



Tetangga samping rumah non-muslim. Tapi ia ikut senang manakala bulan puasa tiba. Banyak jajanan klasik tiba-tiba nongol di kiri-kanan jalan. Pisang ijo, sirup DHT, es-buah, cincau, kelapa muda, panada, putri ayu dan sebangsanya.

Ibu-ibu nyeletuk, bila ramadhan, belanja rutin dapur pasti membengkak.

Tahun ini, adik teman saya minder ke lapangan untuk shalat ied.
“Masa baju ini lagi, kayak tahun-tahun kemarin,” begitu katanya.

Baru H minus 4.
Jalan sekeliling Mall Panakkukang memadat dengan antrian kendaraan. Kerumunan orang adu jajal dengan diskon.

Malam takbiran, bocah-bocah rame main petasan dan kembang api.

Lelaki-lelaki perkasa, yang memerankan sosok kepala rumah tangga nan bijak, sibuk mondar-mandir dari satu toko ke toko lain, menghitung pengeluaran yang pas dengan isi kantong.

Sarung, peci dan koko udeh. Baju baru anak tercinta udeh. Nastar dan kue coklat istri tersayang udeh. Ayam kampung dan ketupat udeh. Kelop udeh!

*   *   *

Syahdan, kata sahibul hikayat, ketupat diperkenalkan Sunan Kalijaga sebagai salah satu sarana menyebarkan islam ke tanah Jawa. Beliau menanamkan budaya bakda lebaran dan bakda kupat.

Bakda kupat dilakukan seminggu setelah hari lebaran. Saat itu, hampir setiap rumah terlihat mengayam daun kelapa muda. Selesai dimasak kupat dihantarkan kepada sanak yang lebih tua, saudara maupun tetangga sebagai lambang penghormatan serta kebersamaan. Seikat kecil juga biasa digantungkan di depan pintu rumah, simbol kesyukuran.

Kupat sarat akan makna filosofis. Bentuknya yang bersudut empat, melambangkan utara, selatan, timur dan barat. Cara membuatnya melalui anyaman rumit yang berliku-liku, melambangkan perjalanan hidup manusia yang jauh dan tidaklah mudah. Meski demikian, kemanapun arah itu berkelana, ujung anyaman terakhir adalah sisa helaian yang menghadap ke atas. Semata-mata ini bermakna bahwa bagaimanapun rupa hidup itu hanyalah kembali dan untuk memuliakan-Nya.

Memasak kupat membutuhkan waktu yang cukup lama. Ini pertanda untuk menjadi manusia yang matang perlu tempaan sedemikian rupa dan tidaklah mudah. Manakala kupat telah matang, belahlah, kita akan bertemu sesuatu yang putih, suci nan lezat. Maka semoga setelah ramadhan, setiap manusia bisa lahir dan tumbuh seperti itu.

*   *   *

Manusia adalah mahluk semiotik (tanda). Kita membangun relasi sosial hingga akhirnya membentuk sebuah budaya bermula dari praktik-praktik ataupun dialektika penandaan yang tentunya memiliki makna.

Hanya, ketika simbol (tanda) yang berlangsung dalam relasi individu, relasi sosial serta relasi budaya tengah sedemikian kompleks hingga menjurus prestise, saat itulah sesungguhnya rentan terjerembab dalam ritus simbolik permukaan yang dangkal dan miskin makna

Mudah-mudahan kita mampu mengambil hikmah. Hakikat pelajaran menahan lapar, haus dan hawa nafsu selama sebulan, bila setiap sahur apalagi bedug buka tiba, meja makan selalu disesaki pesta pisang ijo, sirup DHT, es-buah, cincau, kelapa muda, panada, putri ayu dan sebangsanya. Disusul menu utama. Hingga karena berlebihannya, kadang sisanya berakhir ke tong sampah di pencucian piring. Dan itu berlangsung selama sebulan.

Mudah-mudahan kita bisa menghirup makna. Apa itu mengucap syukur atas rezeki yang telah diberikan. Sehingga kita mampu membangun empati sosial dan saling berbagi kepada sanak yang kurang beruntung, manakala biaya belanja rutin justru membengkak dari hari-hari biasanya. Dan itu berlangsung selama sebulan.

Semoga dengan petasan, sarung, peci, koko, baju baru anak tercinta, nastar, kue coklat crispy, opor ayam kampung dan ketupat, kita bisa memahami apa itu sesungguhnya shaum (menahan diri)

Kita mencoba belajar merasakan apa itu dhuafa, melalui parade ritus tahunan pesta-pesta berlimpah.

Simbol tak memuat pretensi. Tanda tak pernah salah. Sebab sejatinya ia kosong. Kita hanya kadang terlalu dangkal memberi atau bahkan menghilangkan makna itu sendiri.

Sungguh, Sunan Kalijaga ketika pertama kali memperkenalkan makna ketupat, juga mengajarkan semiotika dalam spiritualitas.
Bahwa, ramadhan semata-mata hanyalah sebuah simbol. Bulan yang disucikan sebagai sarana melatih diri. Dimana idul fitri hanyalah penanda lonceng mulai dibunyikan. Sebab pertarungan sesungguhnya terletak di 11 bulan berikutnya.

“1 syawal 1434 Hijriyah, selamat menunaikan ibadah puasa yang sebenar-benarnya!“


* * *


Kampung Pettarani, Makassar 8 Agustus 2013.
Selengkapnya...

Tadinya, mau diberi judul ‘Keyakinan Romantik di Neraka'. Lalu diganti 'Kesetiaan Jin’. Lalu kombinasi dari 'Keyakinan Romantik, Kesetian Jin'. Berhubung sesuatu dan lain hal, yang persisnya gak tahu dan gak jelas apa, maka batal.



“Kesabaran akan selalu berbuah manis...”
Demikian tertulis di dinding akun jejaringnya orang. Punya siapa? Seronok kalau identitasnya dibuka-buka. Di samping tentu saja kurang ajar, juga kurang kerjaan. Potensi efeknya, cuma menambah daftar panjang nama orang-orang yang dibuat jengkel. Lagipula, bukan orangnya yang penting. Kalimatnya.

“Kesabaran akan selalu berbuah manis...”
Dibaca kedua kali, hmm... ya... oke. Maksud yang bijak.

“KESABARAN AKAN SELALU BERBUAH MANIS...”
Nah, baru setelah yang ketiga, setelah menerawang lebih saksama demi memenuhi rasa penasaran stadium akut, hingga lebih cocok disebut 'kemasukan' daripada 'penasaran', setelah secara tampilan lebih 'ilmuwan' ketimbang ilmuwan itu sendiri, ibarat kata menerawang adalah nongkrong 7 hari 7 malam dalam laboratorium hanya karena tak ingin kecolongan sekedipan-mata aktifitas makhluk bintik-bintik super-kecil di balik teropong lensa kaca mikroskop, sampai-sampai saking seriusnya, astagafirullah... huruf-huruf pada kalimat itu sekonyong-konyong tiba-tiba saja 'bengkak' jadi kapital semua, yang sebabnya tak tahu apa, karena itu makin dilematislah keyakinan; apakah benda berstruktur lumayan ribet bernama mikroskop ini memang benar 'alat vital' ajaib untuk 'memperbesar sesuatu'; ataukah ini semata-mata fatamorgana otak akibat reduksi endapan sisa cairan alkohol semalam; ataukah ada makhluk halus yang melintas tanpa sengaja mengakibatkan keanehan pada huruf-huruf di kalimat itu; kiranya diperlukan pertolongan langkah berfikir lebih runut, dan tentu saja pertolongan pertamanya tak lain dan tak bukan mengakhiri sekerumunan barisan kata-kata yang lebih mirip kekacauan paragraf daripada satu kalimat utuh ini dengan tanda baca: titik.


Menggumam akhirnya dalam hati, “Hmm... kayak ada yang ganjil memang kalimat ini?”

Pertanyaan ganjilnya begini, kalau setiap kesabaran selalu berbuah manis, bagaimana jika ada kesabaran yang tidak berbuah manis? Trus, semakin ia sabar tetap saja kesabaran itu gak manis-manis? Bahkan gak berbuah-buah sama sekali? Trus, bagaimana jika yang menentukan apakah kesabaran itu dibuahi atau tidak, memang sengaja memilih orang yang melakukan kesabaran itu agar gak dibuahi yang manis-manis demi membuktikan sejauh apa kesabarannya? Malahan yang pahit? Kalau perlu sekalian saja gak dibuah-buahi? Biar tambah bingung. Atau yang menentukan buah itu bilang begini, “Situ mau sabar apa kagak, ora urus, gak kenal!” Biar lebih bingung lagi.

Nah, kalau sudah begitu, apa sebenarnya kesabaran itu? Maksudnya, adakah hubungan antara sabar dengan buah? Wuaah... mulai ribet. Maksudnya, toh sabar gak bakal berbuah-buah juga, tidak sabar gak berbuah-buah juga, jadi sabar yang mana?
Apakah sabar itu harus digagahi...eh... anu...dibuahi? Apakah sabar yang tak berbuah itu bukan sabar? Bukankah buah dari kesabaran yang wujudnya tak berbuah itu adalah "buah" juga? Hanya saja dibacanya buah pakai tanda kutip? Terakhir apa hubungannya sabar dengan pepatah 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'?    


Yang jelas Kesabaran itu berjodoh dengan obsesi. Keduanya sukar dipisahkan. Bersisi-mata-uang-logam-lah kurang lebih istilahnya.
Sementara, obsesi itu pada dasarnya keinginan yang belum terealisasi. Tentu, dibutuhkan usaha untuk mewujudkan.

Usaha pertama dilakukan. Hasilnya gagal, sebab tolol. Ada usaha kedua.
Usaha kedua nyaris. Nyaris bikin  frustasi. Ada usaha ketiga.
Nah, usaha ketiga replay. Siaran ulang dari usaha pertama dan kedua.

Maka selain usaha, harapan juga perlu ikut nimbrung ambil bagian. Hanya saja harapan itu konsep absurd yang lumayan tidak konkrit. Bertandemlah harapan dengan kesabaran. Tandem yang serasi. Pasangan sejoli.

"Sedikitpun, kesabaranku takkan pernah surut mengharapkanmu," kalimat yang romantis. Ini bukti kalau kedua kata ini memang jodoh. Cuma, siapa memerankan sebagai tulang rusuk kiri kurang tahu. Tapi sesungguhnya, sebaik-baik kesabaran adalah KESETIAAN."

Sempurna spekulasi teori terburu-buru ini. Bisa jadi hanya karena terinspirasi dari fenomena alam “Badai pasti berlalu. Meski pelan, awan gelap pasti beranjak. Langit bakal cerah kembali. Esok matahari akan mengintip lagi. Dan pelangi akan membentang indah di langit biru.”
Pas memang sebagai selimut hangat, pelipur lara disaat semangat nyaris membatu jadi fosil purbakala.

Dan hanya gara-gara satu sempilan kata 'KESETIAAN' itulah, dari sekian banyak pilihan kata yang menghambur di atas, yang kemudian mengingatkan satu cerita, yang entah berhubungan dengan kalimat di dinding akunnya orang itu atau tidak, atau kalaupun tidak nyambung paling tidak cerita ini bukan diinterpretasikan secara sok tahu bahkan mengada-ada dari sumber sebelumnya, ataupun paling tidak cerita ini minimal menarik, pun itu gak ada yang berani menjamin, yang jelas intinya teringat saja.


*     *     *

Kala itu penciptaan manusia pertama,
Ketika ruh baru saja ditiupkan ke dalam sanubari makhluk berasalkan tanah,
Tuhan lalu menyuruh semua makhluk besimpuh sujud kehadapan Adam.

Serta merta hati Jin diliputi resah mendalam. Tak pernah sekalipun sebelumnya, hatinya sesak seperti ini. Alkisah, dengan berat hati ia mengucap kalimat:

“Sungguh, semata-mata hanya kepadaMulah aku menyembah, tak ada yang lain.” Jin mematung, tak melakukan gerak apapun.

Sujud, gerak bukan sembarang gerak.
Sembah boleh berupa apapun.
Sekuntum wangi bunga, sesajenan, tetes darah hewan sembelihan, sekarung emas berlian atau istana megah sekalipun, ihklas sanggup kita berikan.

Tetapi sujud, punya sesuatu yang lain. Sesuatu yang berikrar tentang ketundukan, kepatuhan, kecintaan mendalam, penyerahan keseluruhan, kesetiaan, bahkan meleburnya harga diri.

Ketika kepala ini rebah ke tanah, ke landasan yang bahkan lebih rendah dari telapak kaki, itulah penegasan dari bahasa tubuh paling mulia, yang melukiskan bagaimana segenap diri ini mangakui bahwa dihadapannya adalah keagungan.   

Jin sangat paham akan itu.
Maka demi cinta yang teramat dalam, demi kesetiaan yang teramat suci, ia diluar dugaan terpaksa menampik perintah.
Baginya, hanya satu yang agung, hanya satu yang mulia. Cinta itu tak mendua, kesetiaan suci itu tak berbagi. Sujudku hanyalah milikMu. Tuhan.

Perintah terlanggar.
Meski hati kecilnya sedih, itu bukanlah maksud pembangkangan apalagi pemberontakan.

Setiap pelanggaran melahirkan hukuman.
Dilemparkan (diasingkan) dirinya ke tempat yang begitu mengerikan bagi siapa saja.
Begitu kitab mengisahkan.

Apalagi yang paling menyakitkan, bila kesetian seorang hamba dipisahkan dari sisi tuan yang dicintainya.
Apalagi yang paling memerihkan, bila cinta tak lagi mampu bertemu kekasih hati.
Bahkan untuk sekedar meresapi wajahnya ataukah mendengar bisik suaranya.

Apalagi yang paling mengerikan, sebuah tempat bernama Neraka.
Mengerikan.
(Sebab otak kanan kita terlanjur diajari, inilah tempat dimana isinya tak lain lidah-lidah api yang menjulur.
Lalu otak kiri kita juga diajari, bahwa Jin adalah makhluk yang diciptakan berbahan baku api).
Sungguh-sungguh mengerikan memang. Ajaran model kayak gini maksudnya.

Bayangkan bila seseorang yang mencinta teramat dalam,
terhukum perpisahan dengan kekasihnya.
Tak ada lagi perjumpaan. Wajah yang dipandang. Bisik suara. Aroma tubuh. Bahkan kabar tentangnya.
Tak akan pernah ada lagi setitik apapun denganNya. 

Tapi sedikitpun, Jin tak pernah mengeluh.
Hatinya tak tergoyahkan.
Perpisahan bukan hal apa-apa.
Hanya binasa (ketiadaan), satu-satunya yang pantas merubuhkan keyakinannya.
Bahwa cinta itu tak mendua, kesetiaan suci itu tak berbagi.
Karenanya, sujudku semata-mata hanya milikMu.

Itu ia pegang sejak pertama diciptakan dan akan sampai kapanpun.

“Aku hambaMu yang lebih setia daripada dia (manusia).  Aku lebih mencintaiMu daripada dia (manusia). Aku hanya memohon satu, izinkan aku ikut ke dunia, bersamanya, demi untuk membuktikan itu.”

Dan dia, asal muasal bangsa setan, yang ternyata memilih terlemparkan dalam kobaran api bersama cinta dipersemayaman abadinya, mungkin benar adanya.
Benar bila tentang kesabaran dan kesetiaan tak ada yang sebaik dirinya.
Sebab, kita kadang bahkan sanggup melakukan sujud yang munafik.

Sama seperti kalimat "Kesabaran akan selalu berbuah manis..."
Lama-lama makin terlihat materialistis. Udang di balik batu.
Sepertinya tapi.
 
NB: misalnya tulisan ini gak jelas juntrungan, maka paling tidak poin yang ditawarkan 'Jin ternyata jatuh cinta pada Tuhan'.  atau mungkin 'Betapa gak penting jadi matre, gak disuka jin, bisa-bisa tiap malam minggu diapeli'. 

*    *     *

Kampung Pettarani, Makassar 16 september 2011.

sumber gambar: http://anuranjanbhatia.deviantart.com/art/My-Heart-on-Fire-58522121?q=boost%3Apopular%20heart%20and%20fire&qo=16
Selengkapnya...

Sang Pengembara




















“Seorang yang bebas, harus bisa membayangkan hidup dalam situasi apapun
tanpa perlu kehilangan esensi kemanusiaannya.”
Nurcholis Madjid (1939 – 2005)


Ada suatu kepercayaan yang tidak mempercayai bahwa kegemilangan materi akan membawa ke kebahagiaan sejati.

Dulu, itu merasuki jiwa orang-orang muda di balik kelimun, hingar, dan pesona lampu-lampu kota. Mereka menggelandang, tapi bukan gelandangan. Mereka ada di sudut-sudut malam jalanan, tapi bukan melakukan kriminal, apalagi meratap meminta-minta belas kasihan.

Bohemian.
Kebanyakan mereka adalah orang-orang muda golongan menengah perguruan tinggi, yang mencoba mengungkap ekspresi ‘religius’ tentang hakikat ilahiah lewat nyanyian kemiskinan.


Dalam keadaan bernama kemiskinanlah bersemayam kesucian. Bukan selalu harus dengan ritus kemewahan, industri, apalagi hitungan untung-rugi mesin produksi.

Dibesarkan dengan kultur aksara, seni avant-garde, serta eksistensialisme. Maka baginya, jalanan adalah rumah. Hanya saja kebetulan atapnya dari langit.

Mereka, bohemian, terlanjur jatuh hati akan pengembaraan kehidupan malam. Dan dalam kegelandangan itu mereka barulah merasa ‘manusia’. Manusia yang benar-benar ‘hidup’.

Mereka inilah, yang bercommune, yang berada dibalik teriakan masyhur “Make Love, Not War” menentang Perang Vietnam. Di jalan mereka membagikan warna-warni bunga lambang cinta damai. Orang lalu menjulukinya flower power, flower children, atau yang paling kesohor flower generation.

Soal Perang Vietnam, itu hanya satu dari sekian banyak kejengkelan terhadap rusaknya kenyataan sosial yang tengah berkembang. Materialisme budaya adalah yang paling dicemooh.

Dan counter culture dilakukan. Mari bercelana jeans sobek-sobek, berkaos oblong, berkalung manik-manik, berambut gondrong, berjenggot lebat, bersandal jepit, berjaket yang disulam sendiri. Atau mari berkaftan– jubah longgar tadisional Turki yang menjuntai hingga lutut– demi membedakan kita dengan mereka yang bersetelan rapi dengan dasi.

Mari mengenakan yang berharga murah, sebab kita anti-kemapanan, anti-borjuisme, anti-militerisme, anti-senjata nuklir, anti-masyarakat fasis, bahkan anti-gereja bila memang memenjarakan fikir.

Segala yang beraroma kemandegan, keajegan, dan kesempurnaan palsu harus disingkirkan jauh-jauh. Mari memperjuangkan gerakan hak-hak azasi manusia, kesetaraan hak kaum perempuan, pelestarian lingkungan hidup. Mari mengedepankan cinta-damai, keterbukaan serta toleransi.

Ajaran ‘timur’, buddhisme, vegetarian (menghindari makanan instan), mempraktekkan pengobatan alternatif, adalah hal baik yang bisa kita terima. Retornous a la nature, kembali kepada alam kata Jean-Jacques Rousseau (
1712 - 1778) di Zaman Romantik harus didengungkan kembali.

Itu Bohemian.
Legenda orang-orang muda gelandangan di sudut-sudut malam kota besar barat, yang gemar bercommune dan mereka berbincang tentang seni avant-garde ataukah filsafat eksistensialisme.

Bohemian, seperti juga dari Nietzsche dalam Thus Spake Zaratuhstra :

“Hidup bebas masih terbuka bagi jiwa-jiwa yang besar. Sesungguhnya, dia yang menguasai sedikit adalah yang sedikit pula terkuasai: terberkatilah kemiskinan yang tidak berlebihan!”

* * *

Demikian halnya;

320 tahun sebelum Masehi.
Ada seseorang bernama Diogenes dari Sinope. Ia murid dari Antisthenes. Sementara Antisthenes adalah murid dari Socrates.

Melalui Socrates, Antisthenes mengembangkan filsafatnya di Atena dan diberi nama Gymnasium Kynosarges. Ajarannya yang utama, bahwa “Budi adalah satunya-satunya yang baik.” Di luar itu, tak ada lagi kesenangan hidup yang lain.

Itu diperoleh Antisthenes, tatkala ia mendengar Socrates berucap di depan sebuah kedai yang menjual bermacam-macam barang.

“Betapa banyak benda yang tak kuperlukan,” kata Socrates.

Antisthenes kemudian memahami, bahwa budi adalah kebahagiaan sejati. Dan itu tidak terletak pada kelebihan lahiriah, kemewahan materi, atau kekuasaan politik.

Sayang Antisthenes kontradiktif. Bertolak belakang ajarannya sendiri, Ia mengikuti Kaum Sofis, memungut bayaran dalam ‘sekolah’ filsafatnya. Dimana hal itu sangat pantang bagi Socrates.

Lalu datanglah Diogenes. Murid Antisthenes. Dialah kiranya yang memegang teguh ajaran ini. Konon ia, yang hidup dalam sebuah tong, hanya memiliki sebuah mantel, tongkat, dan kantung roti.

Suatu hari, ‘The Great’ Alexander mengunjunginya dan berdiri dihadapannya. Sang maharaja kemudian menawarkan belas kasihan,

“Adakah sesuatu yang dapat kulakukan sehingga itu membantumu?”
“Ya,” jawab Diogenes.
“Bergeserlah ke samping, Anda menghalangi keindahan cahaya matahari,” lanjutnya.

Diogenes mengisyaratkan, bahwasanya tong, mantel, tongkat, dan kantung roti, tak kalah bahagianya dibanding istana dengan segala kemewahannya.

* * *

Demikian halnya;

Duhai suara itu, panggilan itu, menggoreskan cerita yang termasyhur. Tentang seorang pangeran klan Kerajaan Sakya, yang lahir di dekat kota kecil Kapilavastu, besar dalam dekapan takhta dan kekuasaan, namun mengucap sebuah ‘selamat tinggal’ yang menyesakkan dada.

Sidharta ‘Buddha’ Gautama (565 – 485 SM), pangeran berhati lembut telah menyaksikan parade kefanaan. Bahwa manusia menjadi renta, dihancurkan oleh sakit, diusung sebagai jenazah, lalu dileburkan dalam debu dan tanah. Ia terkesima akan hakikat cerita, bahwa kematian melekat erat dengan dan dalam roda-roda kehidupan manusia.

Maka lonceng pengembaraan dibunyikan. Ia pergi meninggalkan keluarga, gemerlap istana beserta segala isinya. Ia menjadi manusia pengembara, dimana langit kembali dijadikan atap rumah. Yang mengajarkan ‘darma’ kepada siapa saja pengikutnya.

Ia, Sang Sakyamuni– guru bagi orang-orang Sakya– sesungguhnya meniggalkan catatan kecil dalam ajaran Buddhisme. Bahwasanya kealpaan harta bukanlah dalih untuk membinasakan hidup dan diri sendiri. Dalam ajaran terakhir, sebelum ia menuntaskan kehidupan, ia berkata kepada para pengikutnya. *

“Kehancuran itu melekat pada seluruh benda. Usahakan keselamatanmu (kebahagiaan) sendiri dengan penuh ketekunan.”

* * *

Demikian halnya;

Legenda seorang darwish, Abu Ishaq Ibrahim Ibn Adham, seperti juga Buddha Gautama, pangeran keturunan Arab dari Kerajaan Balkh. Yang diceritakan orang-orang suci (wali), meski ‘dunia’ di bawah kekuasaannya, meski 40 pedang emas dan 40 tongkat emas selalu mengiringi depan dan belakangnya, namun semuanya urung menghalangi bisikan hatinya.

Ibrahim Ibn Adham– yang dikisahkan wiracarita sufisme syahid di tahun 165 H/ 782 M dalam sebuah ekspedisi laut melawan pasukan Byzantium– pada suatu tengah malam tidur di pembaringan kerajaan. Di tengah tidurnya, ia merasakan ada orang yang seolah berjalan di atas atap kamarnya.

“Siapa itu?” teriaknya.
“Seorang teman. Aku kehilangan unta, dan kini tengah mencarinya di atas atap ini,” jawab si pemilik suara.
“Dasar bodoh, engkau mencari unta di atas atap?” ujar Ibrahim.
“Orang bodoh?” tukas suara itu.
“Apakah engkau mencari Tuhan di dalam pakaian sutra dan di dalam tempat tidur emas?” sindir si pemilik suara.

Kalimat terakhir itu menyentak Ibrahim. Sesuatu terasa mengganjal dalam hatinya. Sepanjang malam ia gelisah. Hingga ketika pagi tiba, ia kembali ke singgasananya mencoba mencari makna.

Belumlah sempat ia mampu memecahkan gerangan apakah maksud perkataan semalam, seorang lelaki buruk rupa tiba-tiba memasuki ruang istananya. Karena buruknya, tak seorang pun pejabat dan pelayan yang sempat menegurnya.

“Apa maumu?” tanya Ibrahim.
“Aku singgah di penginapan ini,” kata si lelaki buruk rupa.
“Ini bukan penginapan. Ini adalah istanaku, wahai kamu yang telah gila,” teriak Ibrahim setengah marah.
“Siapa yang memiliki istana ini sebelumnya?” tanya si lelaki.
“Ayahku.”
“Sebelumnya?”
“Kakekku.”
“Dan sebelumnya?”
“Buyutku.”
“Sebelumnya lagi?”
“Ayah dari buyutku.”
“Kemana mereka semua pergi?” ujar si lelaki melanjutkan.
“Mereka telah tiada. Mereka telah wafat,” jawab Ibrahim.
“Lalu apa lagi namanya tempat ini kalau bukan penginapan, jika orang-orang hanya masuk dan kemudian pergi,” kata si lelaki buruk rupa.

Setelah berkata demikian, lelaki asing itu pun menghilang tanpa jejak. Menurut riwayat, lelaki itu tak lain Nabi Khidhr as.

Kejadian-kejadian misterius itulah, yang awalnya tak mampu dijelaskan akal Ibrahim, tapi akhirnya membuat dirinya bersimpuh meletakkan segala sesuatu yang membuatnya merasa tinggi hati.

Ketika suara itu, panggilan itu, telah paripurna dalam segenap intuisinya, ia menghampiri seorang gembala domba. Diberikannya jubah bersulam emas beserta mahkota bertahta permata, kemudian berganti mengenakan pakaian dan penutup kepala sang gembala yang terbuat dari bulu hewan.

Syahdan, saat itu semua malaikat seraya berdiri memandang Ibrahim.

“Betapa agung kerajaan yang kini dimiliki Ibn Adham,” ujar para malaikat.
“Ia telah membuang pakaian dekil duniawi, dan kini mengenakan jubah agung kemiskinan.”

Ibrahim Ibn Adham, sorang legenda sufi, memilih menghilang dari Kerajaan Balkh, dan mengembara ke arah barat untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa (asketisisme). Dengan dan dalam kealpaan harta.

Demikian tentang manusia pengembara.


* * *



Kampung Pettarani, Makassar 1 Desember 2006.

______________
* Seperti dikisahkan Goenawan Mohamad, dalam kolom Catatan Pinggir, majalah TEMPO edisi 39/XXXV/20-26 November 2006

sumber gambar: http://synthetikflesh.deviantart.com/art/flower-14366553
Selengkapnya...